Jokowi Anjurkan Petani Bentuk Korporasi Tani

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi berbincang dengan Direktur Utama BRI Suprajarto (kanan) serta seorang pelaku UMKM di sela-sela peluncuran aturan penurunan tarif pajak penghasilan final 0,5 persen bagi UMKM di Surabaya, Jawa Timur, Jumat, 22 Juni 2018. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

    Presiden Jokowi berbincang dengan Direktur Utama BRI Suprajarto (kanan) serta seorang pelaku UMKM di sela-sela peluncuran aturan penurunan tarif pajak penghasilan final 0,5 persen bagi UMKM di Surabaya, Jawa Timur, Jumat, 22 Juni 2018. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyarankan agar para petani tidak jalan sendiri-sendiri. Petani, kata dia, akan lebih baik jika bersatu dan membuat kelompok tani (poktan). Ia meminta pula agar poktan ini bergabung dan membuat gabungan kelompok tani (gapoktan).

    Jokowi menjelaskan, nantinya gapoktan-gapoktan skala besar ini bisa membuat korporasi petani agar ada dampak ekonomis yang dirasakan para anggotanya.

    Baca: Partai Nasdem Sebut Hasil Pilkada Serentak Perkuat Koalisi Jokowi

    "Harus ada korporasi Gapoktan, harus ada korporasi Poktan, harus ada korporasi petani dalam jumlah besar," katanya saat meresmikan pembukaan Asian Agriculture and Food Forum (ASAFF) 2018 di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 28 Juni 2018.

    Menurut Jokowi, petani saat ini selayaknya sudah bisa melakukan lompatan kesejahteraan. "Saya menawarkan mengkorporasikan petani sehingga petani terorganisir dalam jumlah besar di setiap daerah," ujar dia.

    Jika sudah terbentuk korporasi tani, maka harus dikelola secara profesional. Selain memikirkan masalah produksi, harus ada yang mengelola urusan pemasaran.

    "Karena keuntungan terbesar bukan saat kita menanam atau panen. Tapi keuntungan terbesar pascapanen," ucap Jokowi.

    Baca: Jokowi Sambut Kedatangan Mahathir Mohamad di Bandara Halim

    Ia berharap petani ke depan tidak lagi hanya bisa menjual gabah saja. Jokowi menginginkan petani sudah bisa menjual beras dalam kemasan kepada konsumen.

    "Karena keuntungan ada di situ. Keuntungan ada di perdagangan, keuntungan ada di pemasarannya," tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?