Selasa, 17 September 2019

Divonis 7 Tahun, Fredrich Yunadi: Ini Hari Kematian Advokat

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa kasus merintangi penyidikan kasus KTP Elektronik, Fredrich Yunadi menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, 15 Maret 2018. ANTARA

    Terdakwa kasus merintangi penyidikan kasus KTP Elektronik, Fredrich Yunadi menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, 15 Maret 2018. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Terdakwa merintangi penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Fredrich Yunadi mengatakan hari ia divonis 7 tahun penjara sebagai hari kematian advokat. Ia menganggap hukuman yang dijatuhkan kepadanya jadi bukti peran advokat di Indonesia sudah hancur.

    "Ini adalah hari kematiannya advokat, karena peran advokat kita sudah hancur," kata Fredrich usai menjalani sidang pembacaan vonis di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta pada Kamis, 28 Juni 2018.

    Baca: Fredrich Yunadi Divonis 7 Tahun Penjara dan Denda Rp 500 Juta

    Majelis hakim Pengadilan Tipikor menghukum Fredrich 7 tahun penjara dan denda Rp 500 juta subsider 5 bulan kurungan. Hakim menyatakan bekas pengacara Setya Novanto itu terbukti bersama Bimanesh Sutardjo merintangi penyidikan KPK dalam korupsi e-KTP.

    Atas putusan itu, Fredrich langsung mengajukan banding. Menurut Fredrich, hakim melakukan sejumlah kekeliruan. Pertama, menurut dia hakim telah menggunakan seluruh pertimbangan jaksa dalam menentukan vonis. "Ternyata pertimbangannya itu 100 persen nyontek dari jaksa," kata dia.

    Kedua, menurut Fredrich, hakim sudah melanggar konstitusi karena menyebut sistem hukum anglo-saxon (sistem hukum didasarkan pada yurisprudensi) juga berlaku di Indonesia. Padahal, dia mengatakan Indonesia menerapkan sistem hukum Eropa kontinental. "Berarti mereka sedang berkelompok untuk mengubah konstitusi Indonesia," ujarnya.

    Baca: Hadapi Sidang Vonis, Fredrich Yunadi: Kami Tak Mau Berharap

    Menurut Fredrich, putusan hakim itu sudah menginjak-injak hak advokat dalam membela kliennya. Dia khawatir ke depan semua advokat yang membela perkara korupsi akan dijerat pasal merintangi proses hukum tersangka korupsi seperti dirinya. "Apakah koruptor tidak boleh didampingi advokat?" tanya dia.

    Fredrich mengatakan akan mengadu ke sejumlah perkumpulan advokat tentang vonisnya ini. Ia akan menyarankan asosiasi pengacara supaya menolak menangani perkara korupsi. "Silahkan koruptor bela dirinya sendiri. Kami advokat tidak akan membela," ujarnya.

    Baca: Fredrich Yunadi Siap Mendengar Vonis, Jaksa Siap Jaga Emosi Jiwa


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Google Doodle, Memperingati Chrisye Pelantun Lilin-Lilin Kecil

    Jika Anda sempat membuka mesin pencari Google pada 16 September 2019, di halaman utama muncul gambar seorang pria memetik gitar. Pria itu Chrisye.