Kamis, 20 September 2018

Nuruzzaman Bantah Akan Pindah Partai Seusai Mundur dari Gerindra

Reporter:
Editor:

Arkhelaus Wisnu Triyogo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto hadiri acara May Day yang digelar KSPI di Istora Senayan, Jakarta, 1 Mei 2018. TEMPO/Caesar Akbar

    Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto hadiri acara May Day yang digelar KSPI di Istora Senayan, Jakarta, 1 Mei 2018. TEMPO/Caesar Akbar

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (Wasekjen DPP) Partai Gerindra, Mohammad Nuruzzaman membantah tudingan bahwa ia sedang mencari panggung untuk berpindah partai setelah mengundurkan diri dari Gerindra. Tudingan itu muncul sesudah surat terbuka pengunduran dirinya sebagai Wasekjen Gerindra beredar di publik.

    "Saya tidak menduga surat itu akan viral. Maksud saya berkirim surat itu karena marah akan pernyataan Fadli Zon yang menghina Kiai Yahya Staquf. Tudingan bahwa saya akan masuk partai lain atau deal dengan partai lain itu fitnah," ujar Nuruzzaman saat dihubungi Tempo pada Kamis, 14 Juni 2018.

    Baca: Gerindra: Nuruzzaman Cari Panggung Karena Akan Pindah Partai

    Nuruzzaman menyatakan, setelah menyatakan keluar dari Gerindra, dia belum berpikir untuk bergabung dengan partai lain. "Saya akan berkhidmat di Ansor dan Banser saja sebagai perwujudan khidmat santri pada kiai-kiai NU," ucapnya.

    Sebelumnya, Anggota Badan Komunikasi DPP Partai Gerindra Andre Rosiade menuding Nuruzzaman sedang mencari momentum lantaran akan pindah partai. "Informasi valid yang kami dapatkan, dia sudah deal dengan salah satu partai untuk pindah dan akan difasilitasi pencalegannya oleh partai tersebut," tutur Andre saat dihubungi, Rabu, 13 Juni 2018. Namun Andre enggan membeberkan partai mana yang dimaksud.

    Andre menyatakan Gerindra tak keberatan jika Nuruzzaman ingin mundur. Namun dia menyayangkan langkah yang ditempuh. Seharusnya, kata dia, surat pengunduran diri tersebut bisa disampaikan kepada Sekretariat DPP Partai Gerindra, yang buka 24 jam. Terlebih, menurut Andre, surat itu berisi informasi yang tidak benar.

    Baca: Gerindra Beri Somasi, Nuruzzaman Takkan Ralat Pernyataannya

    Dalam suratnya, Nuruzzaman menulis sejumlah alasan pengunduran dirinya. Salah satunya karena pernyataan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon, yang dianggapnya menghina anggota Dewan Pertimbangan Presiden sekaligus Katib Am PBNU, Yahya Cholil Staquf.

    Yahya pergi menjadi pembicara dalam sebuah forum di Israel. Kunjungannya dikritik sejumlah pihak, termasuk Fadli Zon, lantaran dianggap bertentangan dengan sikap pemerintah yang mendukung kemerdekaan Palestina. Andre membela dan menyebut Fadli hanya menjalankan tugasnya sebagai Wakil Ketua DPR.

    Baca: Wasekjen Gerindra Keluar dari Partai, Gara-gara Fadli Zon?

    Nuruzzaman juga menganggap Partai Gerindra sudah tidak sejalan lagi dengan jalan perjuangannya. “Gerindra ternyata belok menjadi sebuah kendaraan kepentingan, yang bukan lagi berkarakter pada kepedulian dan keberanian, tapi berubah menjadi mesin rapuh yang hanya mengejar kepentingan saja,” kata Nuruzzaman.

    Menurut Andre, sikap itu muncul karena Nuruzzaman tidak aktif dalam kegiatan Gerindra. "Kalau memang aktif dan sering ikut kegiatan partai, seharusnya dia tahu partai ini menjunjung kebinekaan dan semangat kebangsaan," ujarnya.

    DEWI NURITA | VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salah Tangkap, Penangkapan Terduga Teroris, dan Pelanggaran HAM

    Sejak insiden Mako Brimob Kelapa Dua pada Mei 2018, Polri tak mempublikasi penangkapan terduga teroris yang berpotensi terjadi Pelanggaran HAM.