Selama Lebaran, Jasa Raharja Percepat Pengajuan Santunan Kecelakaan

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dialog Publik Persiapan Penyelenggaraan Angkutan Lebaran 2018, Jakarta, 4 Juni 2018.

    Dialog Publik Persiapan Penyelenggaraan Angkutan Lebaran 2018, Jakarta, 4 Juni 2018.

    INFO NASIONAL - Untuk menciptakan suasana kondusif selama mudik lebaran 2018, Kementerian Perhubungan bersinergi dengan Jasa Raharja, Bina Marga, dan Kepolisian. Sinergitas antarlembaga ini menjamin pemudik merasa aman, nyaman, dan selamat sampai tujuan.

    Peran Jasa Raharja dalam hal ini adalah memberi kemudahan pengajuan klaim asuransi melalui Aplikasi Pengajuan Santunan Online Jasa Raharja. Aplikasi ini dapat diunduh di Google Play. Sedangkan contact center dapat dihubungi di nomor 1500020 atau pesan pendek center di nomor 081210500500.

    Direktur Utama PT Jasa Raharja Budi Rahardjo Slamet mengungkapkan, Jasa Raharja menerapkan piket siaga untuk melayani penjaminan pembiayaan korban kecelakaan di rumah sakit. Selain itu, Jasa Raharja juga melakukan percepatan pembayaran santunan kecelakaan periode H-7 sampai hari H dibayarkan pada H+5 pada 21 Juni 2018. Untuk periode H+1 sampai hari H+ 7 akan dibayarkan pada H+9 yaitu pada 25 Juni 2018.

    “Besaran nilai santunan korban kecelakaan kendaraan umum dan korban lalu lintas, untuk cacat tetap sebesar Rp 50 juta, perawatan di rumah sakit Rp 20 juta, dan meninggal sebesar Rp 50 juta,” kata Budi pada dialog publik “Persiapan Penyelenggaraan Angkutan Lebaran 2018”, di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin, 4 Juni 2018.

    Pada kesempatan ini juga dipublikasikan hasil survei Litbang Kementerian Perhubungan mengenai angkutan lebaran 2018, terkait potensi, karakteristik, dan pola pergerakan pemudik. Survei dilakukan dengan metode online, yakni 75 persen melalui aplikasi WhatsApp, 14 persen website Kementerian Perhubungan, 2 persen Facebook, 2 persen Line, 1 persen Instagram, dan 5 persen sumber lain.

    Puncak arus mudik berdasarkan survei diprediksi terjadi pada H-6 lebaran, yaitu Sabtu, 9 Juni 2018 dan hari pertama lebaran, Jumat, 15 Juni 2018. Sedangkan puncak arus balik terjadi pada H+3 lebaran, yaitu pada Selasa, 19 Juni 2018. Jumlah pemudik terbanyak berasal dari wilayah Jabodetabek. Adapun tujuan mudik terbanyak ke Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Yogyakarta.

    Berdasarkan survei yang sama, mayoritas pemudik, sebesar 46,7 persen, memilih menggunakan kendaraan pribadi dengan alasan lebih fleksibel, nyaman, serta cepat. Untuk angkutan Lebaran 2018, pemerintah meningkatkan sarana transportasi untuk mudik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Untuk transportasi darat, bus mengalami peningkatan sebanyak 1,68 persen dan kereta api naik 2,37 persen.

    Untuk transportasi laut, kapal roro meningkat sebanyak 3,5 persen dan kapal laut naik sebesar 1,17 persen. Dari sektor penerbangan naik sebesar 0,93 persen.

    Untuk mengantisipasi lonjakan jumlah pemudik, Jasa Raharja menyediakan tempat istirahat (restroom) bagi pemudik sepeda motor sekaligus menyebarkan 5.000 spanduk keselamatan berlalu lintas di daerah rawan kecelakaan. Selain itu, disediakan juga 1.500 sarana pencegahan kecelakaan lalu lintas bagi mitra polisi.

    Lebih lanjut, Budi menyatakan, Jasa Raharja mengoordinasikan 62 badan usaha milik negara (BUMN) untuk mudik bareng dengan jumlah total pemudik mencapai 206.384 pemudik. Sedangkan kontribusi Jasa Raharja mencapai 38.040 pemudik mencakup penggunaan moda transportasi darat dan laut.

    Kementerian Perhubungan telah menyiapkan sejumlah transportasi angkutan lebaran secara gratis, yaitu 1.130 bus dengan kuota 50.850 orang, 70 truk dengan kuota 3.150 sepeda motor dengan tujuan 32 kota. Untuk transportasi laut disediakan 3 kapal penyeberangan dengan kuota 6.000 orang dan 3.000 sepeda motor dengan tujuan 3 kota. Masih ada tambahan 6 kapal laut dengan kuota 30.400 orang dan 15.200 sepeda motor dengan tujuan 1 kota. Sementara kereta api tersedia dengan kuota 18.096 sepeda motor dengan tujuan 32 stasiun. Total keseluruhan kuota yaitu 87.250 orang dan 39.446 sepeda motor. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.