Abah Rosyid, Pengurus MUI Kabupaten Sikka Terima Maarif Award

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rosyid Abdul Wahab penerima penghargaan Maarif Award 2018 di gedung Metro TV, Jakarta, Ahad, 27 Mei 2018. Tempo/Hendartyo Hanggi

    Rosyid Abdul Wahab penerima penghargaan Maarif Award 2018 di gedung Metro TV, Jakarta, Ahad, 27 Mei 2018. Tempo/Hendartyo Hanggi

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengurus Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sikka, Maumere, Nusa Tenggara Timur, Abdul Rosyid Wahab menerima penghargaan Maarif Award 2018. Dewan juri menilai Rosyid sebagai tokoh lokal yang menyebarkan nilai-nilai pluralisme dan kemanusiaan.

    "Dewan juri memilih Abdul Rosyid Wahab setelah menyeleksi 30 nama lain dan melalui pertimbangan yang sangat matang," kata anggota Dewan Juri Maarif Award 2018, Rahmawati Husein, di Kantor Metro TV, Kedoya, Jakarta Barat, Ahad, 27 Mei 2018.

    Maarif Award merupakan penghargaan dua tahunan yang diberikan oleh Maarif Institute sejak 2007. Maarif Institute memberikan penghargaan ini kepada tokoh atau lembaga yang dianggap memiliki komitmen dalam mewujudkan toleransi, keragaman dan keadilan sosial.

    Baca juga: Maarif Award: Mencari Orang Biasa Yang Luar Biasa

    Abdul Rosyid Wahab atau biasa dipanggil Abah Rosyid adalah tokoh Islam di Kabupaten Sikka. Dia menjabat sebagai pengurus MUI dan Muhammadiyah di kabupeten itu.

    Direktur Eksekutif Maarif Institute Muhammad Abdullah Darraz mengatakan Rosyid banyak terlibat dalam menjaga keharmonisan beragama di wilayah Sikka. Darraz mengatakan Rosyid berperan mencegah konflik agama antara muslim dan Kristen di Sikka pada 1995.

    Rosyid kala itu, mampu meredam amarah kelompok muslim untuk tidak melakukan perbuatan yang justru akan memperkeruh suasana. "Dengan upaya itu berhasil meredam konflik berkepanjangan," kata Darraz.

    Baca juga: Tiga Aktivis Perdamaian Terima Maarif Award 

    Rosyid, kata dia, juga aktivis kemanusiaan yang membantu korban letusan gunung berapi Rokutenda 2013. Rosyid mendampingi dan mengadvokasi para korban, meski mereka berlainan agama dengan Rosyid. "Para korban yang menerima bantuan sama sekali tidak ada yang muslim," kata dia.

    Darraz mengatakan yang lebih hebat, Rosyid mempelopori pembangunan sekolah Muhammadiyah di Kabupaten Sikka. Uniknya, meski itu sekolah Islam, 80 persen murid-murid sekolah yang dikelola Rosyid beragama Katolik. "Pluralisme Abah Rosyid adalah pluralisme dalam aksi," kata anggota Dewan Juri, Sudhamek AWS.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.