Fredrich Yunadi Minta Maaf Sebut Penyidik KPK Seperti Bawa Bom

Dokter spesialis jantung RS Premier Jatinegara Jakarta Timur, dokter Glen, bermemberikan keterangan sebagai saksi dalam sidang perkara merintangi penyidikan kasus korupsi e-KTP dengan terdakwa Fredrich Yunadi, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, 3 Mei 2018. TEMPO/Imam Sukamto

TEMPO.CO, JakartaFredrich Yunadi meminta maaf menyebut penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kerap membawa banyak koper seperti membawa bom. Dia mengatakan tak bermaksud mengeluarkan perkataan tersebut. Dia berdalih heran atas sikap KPK yang selalu membawa banyak koper saat penggeledahan atau operasi tangkap tangan.

"Kalau ada kata-kata yang salah, saya mohon maaf, tidak ada unsur kesengajaan dari saya," ucap Fredrich saat sidang pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, Kamis, 24 Mei 2018.

Baca: Mengira Penyidik KPK Bawa Bom, Fredrich Yunadi Diprotes Jaksa

Sebelumnya, pernyataan Fredrich menuai protes dari jaksa KPK. Kali ini mantan pengacara Setya Novanto diprotes karena berucap penyidik KPK kerap membawa banyak koper yang dikira berisi bom. "Ada juga penyidik yang bawa koper. Saya enggak tahu apa isinya. Kalau sekarang mungkin bisa-bisa bom pak," kata dia.

Fredrich mengatakan itu saat jaksa KPK, Roy Riadi, memintanya menjelaskan kronologi penggeledahan KPK ke rumah Setya pada 15 November 2017. Fredrich mengatakan sekitar 20 penyidik KPK datang menggeledah rumah Setya.

Jaksa Roy bertanya soal adanya tim pendukung yang membawa peralatan elekteonik seperti perekam video. Fredrich mengatakan tidak mengetahui beda penyidik dan tim pendukung. Dia hanya bisa menjelaskan rombongan KPK membawa banyak peralatan dan koper.

"Yang jelas rombongan KPK datang, ada yang bawa kamera. Ada juga yang bawa koper. Saya enggak tahu apa isinya. Kalau sekarang mungkin bisa-bisa bom pak. Saya tidak tahu," kata dia.

Baca: Ahli Hukum UI Sebut Fredrich Yunadi Tidak Bisa Dipidana

Jaksa KPK M. Takdir Suhan memprotes ucapan Fredrich. Takdir mengatakan Fredrich tidak pantas mengucapkan itu mengingat situasi negara masih dirundung duka akibat rentetan serangan teror bom yang terjadi belakangan. "Mohon maaf Yang Mulia, perkataan itu tidak pantas dijadikan bercandaan. Lalu KPK disebut bawa bom, itu kami sangat keberatan," katanya.

Ketua Majelis Hakim Syaifuddin Zuhri mengaku ingin meminta penjelasan Fredrich soal pernyataan tersebut. Ia memperingatkan Fredrich Yunadi menggunakan kata-kata yang pantas di persidangan.






KPK Cegah Eks Anggota DPR Chandra Tirta Wijaya ke Luar Negeri

4 jam lalu

KPK Cegah Eks Anggota DPR Chandra Tirta Wijaya ke Luar Negeri

KPK menduga ada anggota DPR periode 2009-2014 dan pihak lainnya yang menerima suap Rp 100 miliar.


KPK Panggil Istri dan Anak Gubernur Papua Lukas Enembe

5 jam lalu

KPK Panggil Istri dan Anak Gubernur Papua Lukas Enembe

KPK telah menetapkan Lukas Enembe sebagai tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi.


KPK Cegah 2 Orang di Kasus Korupsi Garuda Indonesia

7 jam lalu

KPK Cegah 2 Orang di Kasus Korupsi Garuda Indonesia

KPK mencegah 2 orang dalam kasus korupsi Garuda Indonesia. Kasus yang pernah menyeret Emirsyah Satar ke balik jeruji.


KPK Panggil Istri dan Anak Lukas Enembe

7 jam lalu

KPK Panggil Istri dan Anak Lukas Enembe

Istri dan anak Lukas Enembe dipanggil sebagai saksi dalam kasus dugaan gratifikasi kepada Gubernur Papua itu.


KPK Tahan Tersangka ke-8 di Kasus Suap Hakim Agung Sudrajad Dimyati

22 jam lalu

KPK Tahan Tersangka ke-8 di Kasus Suap Hakim Agung Sudrajad Dimyati

KPK menahan tersangka kedelapan dalam kasus suap pengurusan perkara yang menyeret hakim agung nonaktif Sudrajad Dimyati.


KPK Periksa Pilot dan Direktur RDG di Kasus Lukas Enembe

1 hari lalu

KPK Periksa Pilot dan Direktur RDG di Kasus Lukas Enembe

KPK belum berhasil memeriksa Lukas Enembe. Lukas beralasan sakit.


Periksa Pramugari, KPK Telisik Private Jet Lukas Enembe

1 hari lalu

Periksa Pramugari, KPK Telisik Private Jet Lukas Enembe

KPK memeriksa seorang pramugari RDG Airlines Tamara Anggraeny di kasus dugaan korupsi Gubernur Papua Lukas Enembe pada Senin, 3 Oktober 2022


Politikus PDIP Kritik Deklarasi Capres Anies oleh NasDem, Sebut Intervensi ke KPK

1 hari lalu

Politikus PDIP Kritik Deklarasi Capres Anies oleh NasDem, Sebut Intervensi ke KPK

"Saat ini posisi Gubernur Anies masih dalam proses pemeriksaan di KPK," kata politikus PDIP Gilbert Simanjuntak


Tokoh Adat Minta MRP dan DPR Papua Bantu KPK untuk Bisa Periksa Lukas Enembe

1 hari lalu

Tokoh Adat Minta MRP dan DPR Papua Bantu KPK untuk Bisa Periksa Lukas Enembe

Tokoh Adat minta MRP dan DPR Papua melakukan pendekatan dengan tetua adat dari gunung agar pemeriksaan Lukas Enembe bisa segera dilakukan oleh KPK.


KPK Libatkan BPK di Kasus Formula E, NasDem: Anies Baswedan Sumbang 5 WTP untuk DKI

1 hari lalu

KPK Libatkan BPK di Kasus Formula E, NasDem: Anies Baswedan Sumbang 5 WTP untuk DKI

NasDem meyakini Anies Baswedan tak melakukan penyimpangan dalam kasus Formula E. Hal ini terbukti dari 5 kali opini WTP yang diberikan BPK ke DKI.