GMKI Sampaikan Keprihatinan Soal Teror Bom di Surabaya kepada JK

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi berjaga saat petugas melakukan olah TKP di salah satu lokasi Bom Surabaya di GPSS Arjuno, Surabaya, Jawa Timur, 17 Mei 2018. Pascaledakan bom bunuh diri di tiga lokasi gereja yang berbeda di Surabaya pada 13 Mei lalu aparat keamanan masih terus mencari bukti lain terkait peristiwa itu. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

    Polisi berjaga saat petugas melakukan olah TKP di salah satu lokasi Bom Surabaya di GPSS Arjuno, Surabaya, Jawa Timur, 17 Mei 2018. Pascaledakan bom bunuh diri di tiga lokasi gereja yang berbeda di Surabaya pada 13 Mei lalu aparat keamanan masih terus mencari bukti lain terkait peristiwa itu. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengurus Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla alias JK di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Kamis, 17 Mei 2018. Kedatangan GMKI untuk menyampaikan sejumlah aspirasi terkait dengan peristiwa serangan bom di Surabaya, Ahad, 13 Mei 2018.

    "Kami merespons bagaimana peristiwa radikalisme dan khususnya terorisme yang terjadi di beberapa minggu terakhir ini sangat mengkhawatirkan. Tidak hanya masyarakat kita di Surabaya, tapi juga di seluruh Indonesia," kata Ketua GMKI Martin Philip Sinurat.

    Baca: Peledak Bom di Surabaya Punya Gen Teroris, Siapa?

    Kepada JK, Martin meminta pemerintah tidak hanya menangkap para pelaku, tapi juga memberantas terorisme sampai ke sutradara-sutradara intelektualnya. JK, menurut Martin, menyampaikan peristiwa terorisme tidak hanya terkait dengan persoalan internal negara Indonesia. Teroris, kata dia, sudah berkaitan dengan faktor eksternal, antara lain adanya negara-negara gagal, seperti Afganistan dan Suriah. Banyak orang Indonesia datang ke negara itu.

    "Ketika mereka sampai ke sana, mereka melihat peristiwa-peristiwa bom dan lain-lain, dan akhirnya, ketika mereka kembali ke Indonesia, mereka memiliki kemarahan untuk membalaskan ini," ujar Martin mengutip JK.

    JK juga menuturkan kepada GMKI bahwa pemerintah mencoba menyelesaikan persoalan terorisme di negara-negara gagal itu sambil menyelesaikan di tingkat internal negara. Salah satunya dengan kunjungan Presiden Joko Widodo ke Afganistan dan Palestina beberapa waktu lalu. Adapun di tingkat internal, pemerintah mengupayakan penguatan peran kelembagaan supaya bisa menanamkan spirit Pancasila lebih baik.

    Simak: ISIS Klaim Bertanggung Jawab atas Teror Bom Surabaya

    GMKI, kata Martin, sudah melakukan sejumlah upaya nyata untuk mendukung pemberantasan terorisme. Upaya itu misalnya dengan mengeluarkan pernyataan sikap dan aksi bersama untuk merangkul semua lapisan masyarakat agar melawan terorisme. "Tidak hanya bicara kami tidak takut karena pasti semua masyarakat kita resah, tapi kita mendorong supaya masyarakat waspada dan melawan terorisme," ucapnya.

    Serangan bom di Surabaya pada Ahad pagi, 13 Mei lalu, menargetkan tiga gereja. Lokasi serangan bom terjadi di Gereja Kristen Indonesia, Jalan Diponegoro; Gereja Santa Maria Tak Bercela, Jalan Ngagel Madya Nomor 1, Baratajaya, Kecamatan Gubeng; dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.