Lukman Hakim Akui Istri Terduga Teroris Sidoarjo PNS Kemenag

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (kanan) bersama Plt Ketua Badan Pelaksana Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Anggito Abimanyu (kiri) meninggalkan Istana Bogor usai mengikuti rapat terbatas tentang pengelolaan dana haji di Bogor, Jawa Barat, 26 April 2018. Pemerintah memastikan pengelolaan dana haji harus memenuhi prinsip transparansi, akuntabilitas, serta prinsip syariat Islam. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

    Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (kanan) bersama Plt Ketua Badan Pelaksana Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Anggito Abimanyu (kiri) meninggalkan Istana Bogor usai mengikuti rapat terbatas tentang pengelolaan dana haji di Bogor, Jawa Barat, 26 April 2018. Pemerintah memastikan pengelolaan dana haji harus memenuhi prinsip transparansi, akuntabilitas, serta prinsip syariat Islam. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengakui istri terduga teroris di Surabaya, Budi Satrijo, yang ditembak mati Tim Densus 88 adalah pegawai negeri sipil (PNS) Kementerian Agama Kantor Wilayah Jawa Timur.

    "Ya, informasi yang kami dapatkan dari Kanwil Jawa Timur, sejumlah aparat Inspektorat Jenderal yang kami terjunkan ke sana memang betul terkonfirmasi," kata Lukman seusai mengikuti rapat terbatas terkait dengan pembahasan Kebijakan Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal 2018 di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa, 15 Mei 2018.

    Lukman membenarkan bahwa istri terduga teroris yang tinggal di RT 13 RW 05 Perumahan Puri Maharani, Masangan Wetan, Sukodono, Sidoarjo, ini merupakan aparatur sipil negara (ASN) di Kementerian Agama Jawa Timur.

    Baca juga: Terduga Teroris yang Tewas di Sidoarjo Aktif Ikut Kegiatan Warga

    "Ini pelajaran bagi kami untuk lebih ketat, lebih meningkatkan kewaspadaan, bahwa seluruh ASN dan keluarganya tentu harus sesuai dengan sumpah dan janji ketika dilantik dan menaati Undang-Undang ASN," ujarnya.

    Lukman menegaskan pihaknya akan memberikan sanksi ke semua ASN Kementerian Agama yang jelas terbukti melanggar hukum, sumpah, dan semua regulasi.

    Saat ini, kata Lukman, pihaknya terus melakukan komunikasi dengan penegak hukum terkait dengan masalah ini.

    Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri telah melakukan 13 penindakan terhadap teroris di wilayah Surabaya dan Sidoarjo pada Senin, 14 Mei 2018.

    Kepala Bidang Humas Polda Jawa Timur Kombes Frans Barung Mangera mengatakan 13 penindakan antisipatif itu untuk melawan teroris.

    Baca juga: Penggerebekan Terduga Teroris Sidoarjo, 4 Ditangkap dan 1 Tewas

    "Kita melakukan penindakan pada Senin dinihari pukul 02.30 sampai 16.45 WIB. Ada 13 orang ditindak yang akan melakukan teror," ujarnya.

    Barung mengatakan, dalam penindakan itu, empat terduga teroris tewas karena ditembak mati Densus 88 Antiteror Mabes Polri.

    "Empat di wilayah Sidoarjo, termasuk Anton yang semalam. Sembilan tersebar di Sidoarjo dan Surabaya. Total ada 13 orang, sembilan hidup dan empat mati," ucap Barung.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.