KPAI Siap Dampingi Anak Terduga Teroris yang Selamat

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah polisi melintas di jalan cendrawasih samping Mapolrestabes Surabaya yang disterilkan. TEMPO/Musthofa Bisri

    Sejumlah polisi melintas di jalan cendrawasih samping Mapolrestabes Surabaya yang disterilkan. TEMPO/Musthofa Bisri

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Putu Elvina mengatakan pihaknya siap memberikan pendampingan terhadap anak terduga teroris yang selamat dalam ledakan bom di Mapolresta Surabaya, Jawa Timur.

    "KPAI akan berikan dukungan yang maksimal soal perlindungan dan rehabilitasinya," kata Elvina saat ditemui di Bareskrim Polri, Jakarta Pusat, Senin, 14 Mei 2018.

    Baca: Anak Perempuan Selamat dari Ledakan Bom di Mapolrestabes Surabaya

    Ia menjelaskan KPAI akan berupaya memberikan edukasi sampai anak itu paham arti nasionalisme dan kebhinekaan. Rehabilitasi yang diberikan, kata dia, akan mereduksi nilai-nilai destruktif yang selama ini anak dapat dari orang tua.

    Sebelumnya beredar CCTV yang menampilkan dua sepeda motor datang ke Mapolresta Surabaya dan meledakkan diri. Salah satu sepeda motor itu membawa seorang anak perempuan berinisial AAP. Dia diketahui selamat dari ledakan bom tersebut.

    Baca: Bom di Mapolrestabes Surabaya Diangkut dengan Sepeda Motor

    Detik-detik bangkitnya AAP dari puing-puing ledakan itu terekam kamera. AAP yang mengenakan jilbab hijau terlihat berdiri dan berjalan sempoyongan hingga mendapatkan pertolongan dari seorang anggota polisi dan dilarikan ke UGD Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya.

    Lebih lanjut, Elvina mengajak kepada orang tua untuk tidak melakukan upaya kekerasan dan mengajarkan paham radikal kepada anak-anak. Sebab, jika terbukti melakukan hal tersebut, orangtua bisa diancam pidana penjara karena memposisikan anak dalam kondisi yang berisiko.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.