Fredrich Yunadi Akui Simpan 36 Senjata Api di Rumahnya

Reporter:
Editor:

Arkhelaus Wisnu Triyogo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa kasus merintangi penyidikan kasus KTP Elektronik, Fredrich Yunadi menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, 15 Maret 2018. ANTARA

    Terdakwa kasus merintangi penyidikan kasus KTP Elektronik, Fredrich Yunadi menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, 15 Maret 2018. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengacara Fredrich Yunadi mengungkapkan alasan kepemilikan 36 senjata api yang disimpan di rumahnya. Bekas pengacara Setya Novanto itu mengaku kerap mendapat ancaman atas profesinya dalam menangani perkara hukum.

    Fredrich mengaku tak asing dengan senjata api. “Harus punya, untuk self-defense,” kata Fredrich, yang mengaku mulai berkenalan dengan senjata api pada 30 tahun lalu, kepada Tempo setelah menjalani sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Jumat, 4 Mei 2018.

    Baca: Fredrich Yunadi: Siapa Pun yang Mau Menyantet Saya, Silakan

    Fredrich mengaku sering mendapat ancaman dari orang-orang ketika sedang menangani perkara hukum. Ia mengatakan lawan-lawannya di persidangan pernah mengancam dengan menodongkan senjata api atau senjata tajam. “Saya pernah dikejar sekitar seratus orang. Pakai celurit, saya mau dibacok,” katanya.

    Di antara koleksi 36 buah senjata api yang ia miliki, Fredrich berujar pistol jenis Glock 43 adalah favoritnya. Glock 43 adalah senjata api jenis pistol 9 milimeter buatan Austria.

    Fredrich mengklaim memiliki sertifikat dan izin untuk menggunakan senjata api. Ia mengatakan mengurus izin kepemilikan senjata api pada 2004. “Saya senjata semua izin lengkap. Saya pakai IKSA (izin kepemilikan senjata api),” katanya.

    Baca: Fredrich Yunadi Akan Bersaksi untuk Bimanesh Sutarjo Hari Ini

    Fredrich adalah terdakwa kasus merintangi penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Setya Novanto. Ia diduga bersekongkol dengan dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Bimanesh Sutarjo, untuk menghalangi penyidikan terhadap kliennya, Setya Novanto. Fredrich mendekam sebagai terdakwa di rumah tahanan KPK dan tidak bisa lagi membawa senjata api ke mana-mana.

    Fredrich mengatakan pertama kali bertemu dengan Bimanesh pada 2004 di Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Ketika itu, ia menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mengurus izin kepemilikan senjata api. Saat itu Bimanesh masih menjadi dokter di RS Polri Kramat Jati.

    Kepemilikan senjata api Fredrich Yunadi diketahui publik saat tampil di kanal YouTube Catatan Najwa pada 24 November 2017. Saat itu, Fredrich menyebut dirinya tidak segan-segan menembak orang yang mengancamnya. “Saya di tengah jalan, saya tembak langsung orangnya. Saya enggak ragu-ragu, kok. Saya kan punya izin,” katanya saat itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.