Minggu, 22 April 2018

Kementerian Agama DIY Data Masjid yang Sebarkan Intoleransi

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Buya Syafii saat mendapat cinderamata ukiran geguritan dari Gerakan Masyarakat Yogya Melawan Intoleransi di Gedung Suara Muhammadyah Yogya, 17 Februari 2018. Tempo/Pribadi Wicaksono

    Buya Syafii saat mendapat cinderamata ukiran geguritan dari Gerakan Masyarakat Yogya Melawan Intoleransi di Gedung Suara Muhammadyah Yogya, 17 Februari 2018. Tempo/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Jakarta - Kantor Kementerian Agama Wilayah DI Yogyakarta mendata masjid yang ada di wilayahnya agar tak menjadi tempat penyebaran paham radikal dan intoleransi.

    "Kami mendeteksi ada masjid yang kerap menghadirkan penceramah yang provokatif atau memasukkan nilai-nilai intoleran," ujar Kepala Kantor Kementerian Agama Wilayah DI Yogyakarta Muhammad Lutfi Hamid di kantornya 27 Maret 2018.

    Luthfi menuturkan dalam pendataan masjid yang terindikasi menjadi tempat menyebarkan paham intoleransi ini, pihaknya juga melibatkan badan intelkam Markas Besar Kepolisian RI.

    Baca juga: Heboh Selebaran Intoleransi di Rajeg, Kepala Desa: Sudah Dicabut

    Luthfi mengakui tak mudah untuk mencegah agar masjid tak dijadikan sebagai tempat menyebarkan paham radikal dan intoleran.

    Berbagai upaya pembinaan pada takmir masjid agar mengantisipasi masuknya khotib atau penceramah yang materi ceramahnya kerap mengandung nilai radikal dan intoleransi juga telah dilakukan.

    "Penceramah yang mengajarkan kebencian dan intoleran kami minta tak dipakai lagi," ujarnya.

    Namun tetap saja ada masjid yang dijadikan tempat menyebarkan nilai radikal dan intoleran itu. Mulai dari materi ujaran kebencian pada pemerintah lewat data-data ngawur, mendorong pendirian pemerintahan khilafah, menghembuskan permusuhan pada kelompok agama sendiri dan agama lain hingga ceramah yang membenturkan konsep agama, negara, dan budaya.

    Di Yogya misalnya, Luthfi menyebut ada satu masjid yang saat ini terindikasi menjadi tempat penceramah menyebarkan nilai intoleransi itu.

    Luthfi belum bersedia membuka di mana masjid itu berada. Alasannya pihaknya masih berupaya melakukan pendekatan agar masjid itu tak mengundang lagi penceramah yang provokatif.

    "Kami coba upaya preventif dulu, agar takmir masjid itu tak mengundang lagi penceramah provokatif," ujarnya.

    Luthfi menambahkan, Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY saat ini juga memiliki perhatian khusus atas eksistensi penyuluh agama. Salah satunya terkait moderasi pemahaman agama yang dimiliki.

    Untuk memberi penguatan terhadap hal tersebut, Menteri Agama RI juga akan hadir menyapa langsung dan melakukan dialog dengan 1.000 penyuluh agama se-DIY pada Rabu 28 Maret 2018.


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Hari Kartini, Shahnaz Haque Berpesan Wanita Harus Seperti Kucing

    Inilah petuah selebritas Shahnaz Haque, atlet bulu tangkis Greysia Polii, dan peneliti laser Maria Margaretha Suliyanti untuk Hari Kartini 2018.