Soal Pidato Prabowo, Gerindra: Bukan untuk Menebar Pesimisme

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Komisi IV Edhy Prabowo. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Ketua Komisi IV Edhy Prabowo. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Politikus Partai Gerindra, Edhy Prabowo, mengatakan pidato Prabowo Subianto mengenai prediksi Indonesia akan bubar pada 2030 bukanlah hasil analisis Ketua Umum Gerindra tersebut. Menurut dia, pernyataan Prabowo didasari kajian ahli sejarah dunia tentang Indonesia.

    "Apa yang beliau sampaikan bukan atas nama, dasar, keputusan, atau analisis beliau pribadi. Itu hasil kajian dari para ahli di dunia dan ahli sejarah," katanya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 21 Maret 2018.

    Baca juga: Hanafi Rais Sebut Pidato Prabowo sebagai Peringatan

    Selain itu, menurut Edhy, pidato Prabowo seharusnya dimaknai sebagai koreksi bagi elite politik mengenai kondisi negara saat ini. "Jadi tidak ada niatan untuk menebar pesimisme, ini justru optimisme bagi yang berpikir positif," ujarnya. "Beliau ingin negara ini lebih maju, berdaulat, lebih berkembang, lebih hebat."

    Video pidato Prabowo menuai kontroversi setelah video berdurasi 1 menit 31 detik itu diunggah tim media Partai Gerindra. Prabowo yang mengenakan baju putih menyuarakan dengan tegas bahwa Indonesia akan bubar pada 2030.

    Baca juga: Prabowo Pidato Indonesia akan Bubar, Ini Nasehat Pengamat

    Prabowo memberikan argumen antara lain tentang kedaulatan negara. Dia mengatakan, "Di negara lain, mereka sudah bikin kajian-kajian, di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030." Dia menambahkan, dari 80 persen tanah seluruh negara, hanya satu persen yang dikuasai rakyat Indonesia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.