Jumat, 16 November 2018

Perusakan Tempat Ibadah Disebut Ujian Bagi Umat Agama Mayoritas

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hendardi. TEMPO/Amston Probel

    Hendardi. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Setara Institute Hendardi mengatakan perlu dilakukan pengungkapan kasus dan pemulihan sosial setelah perusakan tempat ibadah Kapel Santo Zakaria di Desa Mekar Sari, Kecamatan Rantau Alai, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

    Menurut dia, insiden yang terjadi pada Kamis, 8 Maret 2018. itu sejatinya ujian bagi umat Islam sebagai kelompok mayoritas di Ogan Ilir. “Kasus di Ogan Ilir di sisi yang lain adalah ujian bagi kelompok mayoritas agama dalam mewujudkan kehidupan yang toleran," kata Hendardi melalui keterangan tertulis pada Jumat, 9 Maret 2018.

    Kapel Santo Zakaria dirusak oleh sekelompok orang tidak dikenal sekitar pukul 01.00 WIB pada Kamis dini hari, 8 Maret 2018. Para pelaku datang menggunakan sepeda motor. 

    LihatPerusakan Rumah Ibadah, Gubernur Alex Noerdin: Murni Kriminal 

    Kapolres Ogan Ilir AKBP Gazali Ahmad menuturkan, gereja tersebut didirikan pada 2000 dan sudah 18 tahun tidak ada masalah. Kemudian gereja ini direnovasi pada 2017 kemudian diresmikan pada pekan lalu.

    Hendardi menuturkan, warga sekitar tempat ibadah yang diserang juga harus berperan dalam memberikan pemulihan sosial. Apalagi, berdasarkan data demografi terbaru 99,6 persen penduduk Kabupaten Ogan Ilir beragama Islam. Maka publik harus melakukan langkah-langkah yang memadai untuk membangun ketahanan sosial.

    “Agar kebiadaban serupa yang mengoyak keberagaman kita tidak terulang lagi,” tutur Hendardi.

    Kapolda Sumatera Selatan Irjen Zulkarnain Adinegara berjanji mengusut tuntas kejadian perusakan tempat ibadah Kapel Santo Zakaria. Dia meminta warga tenang dan mempercayakan pengungkapan kasus kepada polisi. "Belum tahu motifnya apa."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.