Polri Kantongi Nama Penyebar Hoax Soal Serangan ke Tokoh Agama

Reporter:
Editor:

Widiarsi Agustina

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kabareskrim Polri Komjen Ari Dono Sukmanto saat menetapkan Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai tersangka terkait kasus penistaan agama di Bareskrim, Mabes Polri, Jakarta, 16 November 2016. Ahok dinilai melanggar Pasal 156a KUHP dan Pasal 28 Ayat (1) UU 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. TEMPO/Subekti.

    Kabareskrim Polri Komjen Ari Dono Sukmanto saat menetapkan Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai tersangka terkait kasus penistaan agama di Bareskrim, Mabes Polri, Jakarta, 16 November 2016. Ahok dinilai melanggar Pasal 156a KUHP dan Pasal 28 Ayat (1) UU 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta -- Mabes Polri ternyata sudah mengantongi identitas sejumlah akun penyebar Hoax atau kabar bohong mengenai serangan ke sejumlah tokoh agama. Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Polisi Ari Dono Sukmanto mengatakan, akun penyebar kabar bohong itu sengaja mengoreng desas-desus adanya kekerasan terhdap pemuka agama.

    "Yang membahas hal tersebut dimotori oleh beberapa akun yang namanya sudah dikantongi Polri. Jadi siap-siap saja jika masih terus menyebarkan hoaks seperti itu," kata Komisaris Jenderal Ari Dono dalam keterangan persnya, Kamis 22 Februari 2018.

    BACA: Antisipasi Serangan ke Tokoh Agama, Polisi Tangkap 15 Orang Gila

    Ari Dono mengatakan, dari hasil penyelidikan, penyebaran hoax dilakukan secara terstruktur dan sistematis. "Misalnya saja dari medsos, diketahui ada puluhan ribu artikel membahas permasalahan penyerangan terhadap ustadz, ulama dan tokoh agama." kata Ari Dono. Lalu, Ari Dono menambahkan, para aktor mengkaitkannya dengan sejumlah isu. " Aktor itu mengaitkannya dengan isu kebangkitan PKI," katanya.

    BACA: Jokowi Minta Polisi Cegah Penyerangan terhadap Tokoh Agama

    Kepala Bareskrim menambahkan, isu serangan terhadap tokoh agama sengaja digencarkan oleh para buzzer di medsos untuk membuat seolah-olah kondisi keamanan negara sedang genting."Dari hasil penyelidikan ditemukan fakta bahwa itu semua hoaks. Tujuan hoax itu menggiring opini masyarakat bahwa negara seolah-olah sedang dalam situasi bahaya," katanya.

    Kabar hoax soal serangan ke tokoh agama itu tersebar di berbagai jejaring media sosial diantaranya Facebook, Twitter, Google+ dan Youtube.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.