Senin, 22 Oktober 2018

Viral Perempuan berhijab di Gereja Sleman, Ini Kesehariannya

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi sedang melakukan olah TKP di Gereja St Lidwina Bedog, Sleman Yogyakarta pasca-penyerangan oleh seorang pria bersamurai. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Polisi sedang melakukan olah TKP di Gereja St Lidwina Bedog, Sleman Yogyakarta pasca-penyerangan oleh seorang pria bersamurai. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Jirhas Ranie, 30 tahun, menjadi perbincangan di media sosial karena fotonya yang sedang membersihkan Gereja Santa Lidwina Sleman pascapenyerangan gereja, Ahad, 11 Februari 2018, viral. Siapa Ranie? Ranie adalah ibu rumah tangga.

    Selain mengurus pekerjaan rumah tangga, istri dokter anestesi PKU Muhammadyah Bantul Ahmad Muttaqien Alim itu aktif sebagai anggota Aisyiyah, organ otonom bidang perempuan dari organisasi Muhammadiyah.  Suami Ranie pun aktivis Muhammadiyah. Muttaqien adalah relawan yang biasa menangani bidang kebencanaan dalam Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).

    Baca: Cerita Jirhas Ranie, Ibu Berhijab Bersihkan ...

    “Saya sebenarnya juga minoritas, karena berasal dari keluarga Muhammadyah tapi hidup di Temanggung yang lebih banyak umat NU (Nahdlatul Ulama)-nya,” ujar Ranie sambil tertawa saat ditemui Tempo di rumahnya di perumahan Nogotirto Gamping, Sleman, Selasa, 13 Februari 2018.

    Ranie sama sekali tidak menyangka jika banyak dibicarakan setelah fotonya sedang menyapu dengan latar belakang patung Yesus yang dirusak di Gereja Lidwina itu viral. “Membantu itu kan hal alamiah dari manusia, bukan sesuatu yang mesti dibesar-besarkan.”

    Ia menduga mungkin karena ia berhijab dan menyapu di gereja, menjadi sorotan banyak orang “Seperti itu jadi tampak ‘wah’, padahal itu buat saya biasa saja,” ujar perempuan yang menempuh pendidikan sarjananya di Universitas Islam Indonesia dan S2 di Universitas Gadjah Mada itu.

    Baca juga: Penyerangan Gereja Sleman, Uskup Agung: Vatikan Pasti Tahu

    Ibu dengan satu anak berusia delapan tahun itu mengaku awalnya penasaran dengan kejadian penyerangan gereja Lidwina itu karena rumahnya hanya berjarak sekitar 300 meter dari gereja dan dibatasi areal persawahan. Di areal jalur membelah persawahan nan asri menuju gereja itu, Ranie beserta suami dan anaknya sering menghabiskan sore bersepeda menikmati udara desa.

    “Gereja itu kan tetangga rumah saya, ya umumnya tetangga ya peduli, ada apa di situ.” Ia ingin tahu kondisi gereja setelah diserang. “Saya ke sana mau lihat, mau berbelasungkawa,” ujarnya.

    Ranie tidak begitu tahu atau kenal dengan jemaat gereja itu meski rumahnya cukup dekat. Tapi karena ada kejadian itu, Ranie dan suami ingin melihat situasi di dalam gereja. Namun kedatangannya tidak direncanakan dan sekedar mampir. Di gereja itu, karena melihat hanya ada para lelaki yang menyapu, ia turun tangan. “Masak saya diam saja? Jelas enggak nyaman kalau tidak ikut membantu,” ujar dia.

    Simak: Pemuda Misterius Sebelum Serangan Gereja ...

    Saat diwawancara awak media sebelumnya, Ranie mengaku tak pernah mengungkap identitasnya bahwa ia pegiat Aisyiyah. Menurut perempuan yang aktif di Forum Pemuda Kerukunan Umat Beragama itu, tindakannya di gereja itu hanya untuk berbelasungkawa dan membantu. Tak berhubungan dengan aktivitasnya bersama organisasinya.

    Namun setelah fotonya viral, seorang kenalan baiknya yang juga anggota Barisan Serba Guna (Banser) Yogya, memposting dan membuka identitas Ranie yang aktif sebagai anggota Aisyiyah.   


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hak Asasi Binatang Diperingati untuk Melindungi Hewan

    Hak Asasi Binatang, yang diperingati setiap 15 Oktober, diperingati demi melindungi hewan yang sering dieksploitasi secara berlebihan, bahkan disiksa.