Minggu, 27 Mei 2018

Begini Rekonstruksi Siswa di Sampang yang Menganiaya Gurunya

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi perkelahian/kekerasan/penganiayaan. Shuttertock

    Ilustrasi perkelahian/kekerasan/penganiayaan. Shuttertock

    TEMPO.CO, Jakarta - Siswa SMA Negeri 1 Torjun, Sampang, Jawa Timur yang  menganiaya gurunya hingga tewas hari ini menjalani rekonstruksi di sekolahnya. Siswa berinisial H itu telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penganiayaan hingga menyebabkan kematian gurunya, Ahmat Budi Cahyono pada Kamis 1 Februari 2018.

    H mengikuti rekonstruksi itu dengan masih mengenakan seragam Pramuka. Ia menjalani beberapa adegan saat penganiayaan terjadi.

    Dari rekonstruksi itu terungkap, H memukul gurunya dari arah depan agak menyamping.
    Guru nahas itu dipukul bagian tengkuk lehernya dengan tangan kanan. Sekali pukul, membuat si guru terjatuh. Namun ia segera bangkit namun tak melawan. Ada pun MH, langsung dipegangi oleh teman-temannya agar keributan tak berlanjut.

    Baca juga: Pelaku Penganiayaan Kiai Umar Basri Ditangkap

    Tindakan H itu dipicu teguran dan sanksi yang diberikan Guru Budi. Pada Kamis siang, 1 Februari 2018, Budi mengajar di kelas H pada jam pelajaran terakhir. Ia pun meminta muridnya praktek melukis mural di dinding taman sekolah.

    Saat itulah, H terlihat mengganggu murid yang lain. Budi sudah menegur namun tak digubris. Akhirnya Budi meminta MH untuk tidak mengikuti kelasnya. H rupanya tak terima dan memukul Budi.

    Seorang guru di SMA Negeri 1 Torjun, yang tak mau disebutkan namanya menuturkan keributan itu didengar kepala sekolah. Guru Budi pun dipanggil dan diminta menjelaskan kejadiannya. Waktu itu, Budi hanya mengaku terjatuh hingga membuat lengannya terluka. Budi tidak mengaku terjatuh karena dipukul muridnya.

    “Begitu cerita yang saya dengar, waktu ada rapat di sekolah dengan Dandim dan Kapolres,” kata guru tersebut.

    Menurut guru tadi, H memang sosok murid yang moodnya susah ditebak. Kadang dia baik dengan satu guru, bila berpapasan suka menyapa dan salaman. Namun begitu acuh dengan guru lainnya.

    “Dia memang suka telat. Dan sering izin ke toilet pas saya ngajar, tapi dia nurut ke saya,” ujar guru tadi.

    Baca juga: Kepala Satpol PP DKI Jakarta Dilaporkan Atas Dugaan Penganiayaan

    Guru ini mengaku tidak tahu pasti apakah muridnya itu memang tidak senang pada guru Budi. Namun dia menilai, sosok Budi adalah guru pendiam dan santun. Sehingga sulit dia percaya, Budi ribut dengan siswa bahkan sampai dipukul.

    “Budi teman akrab saya, saya ingat betul kemana-mana dia pasti bawa kopi, dia juga suka traktir ngopi di luar sekolah,” kenang dia.

    Meski dalam rekonstruksi saat  menganiaya H hanya memukul Budi sekali, namun pukulan itu mengenai organ vital di tengkuk belakang. Dokter RS dr Soetomo yang sempat menangani Budi mendiagnosa Budi meninggal karena mengalami Mati Batang Otak sehingga seluruh organnya berhenti berfungsi.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Dua Pendaki Mahasiswi Univesitas Parahyangan Gapai Seven Summits

    Pada 17 Mei 2018, dua mahasiswi Universitas Parahyangan, Bandung, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, menyelesaikan Seven Summits.