PVMBG Cabut Larangan Mendekat Kawah Sileri Gunung Dieng

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Detik-detik pasca Kawah Sileri Dieng meletus. TEMPO/Istimewa

    Detik-detik pasca Kawah Sileri Dieng meletus. TEMPO/Istimewa

    TEMPO.CO, Bandung - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, mencabut larangan mendekat dalam radius satu kilometer dari Kawah Sileri, Gunung Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah. Tak ada lagi tremor yang ditimbulkan aktivitas vulkanik Kawah Sileri.

    “Kami segera turunkan statusnya ke normal lagi,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api, PVMBG, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Gede Suantika kepada Tempo, Selasa, 3 Oktober 2017. Kendati statusnya normal, PVMBG masih melarang masyarakat mendekat dalam radius 100 meter dari Kawah Sileri, salah satu kawah aktif di Dieng.

    Baca:
    Gunung Dieng Waspada, Jangan Dekati Kawah Sileri Kawah Sileri Dieng Meletus, 4 Wisatawan Alami ...

    Larangan tersebut guna mengantisipasi erupsi yang bisa terjadi setiap saat. “Masih berpotensi erupsi tiba-tiba. Setiap saat aktivitas Kawah Sileri bisa berubah,” ujarnya.

    PVMBG sudah hafal aktivitas Sileri. Setiap ada gempa tektonik, Sileri pasti aktif lagi. “Aktifnya itu bisa sebulan atau dua bulan kemudian,” ucapnya.

    PVMBG menaikkan status Gunung Dieng menjadi Waspada (Level II) sejak 14 September 2017 pukul 23.00. Gempa tremor dan temperatur tanah di Kawah Sileri naik. “Saat itu kami berjaga-jaga untuk menyiapkan kewaspadaan,” tuturnya. Direkomendasikan agar tidak ada yang mendekat dalam radius satu kilometer dari bibir kawah.

    Menurut Gede, gempa tremor terus terpantau selama 14 hari sejak status Sileri naik menjadi Waspada sebelum tiba-tiba hilang. “Setelah 14 hari, tremor sudah tidak ada lagi.”

    Baca juga:  
    KPK Akan Perpanjang Pencekalan Setya Novanto

    Naiknya aktivitas gunung yang dipicu gempat tektonik menjadi ciri Dieng. “Itu ciri khas Dieng Sileri-Timbang, dulu sempat terjadi gempa tektonik baru keluar gasnya. Kawah Sileri berbahaya karena letusannya melontarkan lumpur,” katanya.

    Gede mengatakan, letusan freatik Kawah Sileri terakhir, misalnya pada 2 Juli 2017, terjadi saat musim liburan Hari Raya Lebaran. Kejadian itu dipicu gempa tektonik Gunung Dieng. Erupsi melukai pengujung. Sebelumnya, erupsi terjadi pada 3 April 2017 dan 24 April 2017.

    Selain Sileri, satu lagi kawah yang menyimpan potensi bahaya, yakni Kawah Timbang berupa hembusan gas beracun. Khusus di Kawah Timbang, PVMBG melarang pengunjung untuk memasuki areal kawah yang membentuk lembah kecil. “Yang penting kami kasih peringatan, tak boleh turun ke dasar kawah. Gas beracun terjebak di lembah kecil itu,” tuturnya.

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.