Evakuasi Sapi dari Erupsi Gunung Agung Terkendala Angkutan

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang wanita Bali berjalan menuju sebuah kuil saat Gunung Agung ditutupi oleh awan di sebuah desa di Karangasem, Bali, 26 September 2017. Letusan diperkirakan akan membuat bandara ditutup. AP/Firdia Lisnawati

    Seorang wanita Bali berjalan menuju sebuah kuil saat Gunung Agung ditutupi oleh awan di sebuah desa di Karangasem, Bali, 26 September 2017. Letusan diperkirakan akan membuat bandara ditutup. AP/Firdia Lisnawati

    TEMPO.CO, Jakarta  - Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian berencana mengevakuasi 20 ribu sapi ternak dari lokasi terdampak erup  Gunung Agung, Bali. Namun prosesnya menghadapi kendala. 

    Menurut Direktur Jenderal PKH I Ketut Diarmita sampai Kamis, 28 September 2017, Ditjen PKH baru mampu mengevakuasi 2.443 ekor sapi. Sebab, mereka hanya punya sembilan truk. "Salah satu kendala kami adalah kurangnya armada untuk mengevaluasi ternak sebanyak 20 truk," kata dia dalam keterangan tertulis, Jumat, 29 September 2017.

    Baca: Antisipasi Erupsi Gunung Agung, Kementan Evakuasi 20 Ribu Sapi

    Selain armada truk, kata Ketut, pihaknya juga kekurangan tenaga evakuasi, pengawasan, dan perawatan ternak. Selama ini tiga kegiatan tersebut dilakukan oleh Satgas Peternakan dan Kesehatan Hewan. Satgas terdiri dari Ditjen PKH, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali, dan Dinas Pertanian Kabupaten Karangasem.

    Selain evakuasi, satgas bertugas mengidentifikasi ternak dan pemilik ternak. Mereka akan mengawasi dan menangani kesehatan dan kesejahteraan ternak di tempat penampungan. Satgas juga akan mengidentifikasi pengungsi yang membawa anjing peliharaan dan memberikan vaksinasi rabies . "Ini karena Bali endemis rabies atau penyakit anjing gila," ujarnya. 

    Ketut mengatakan persediaan pakan pun masih kurang. Kebutuhan konsentrat sapi untuk satu bulan sebanyak 1.200 ton. Saat ini sudah tersedia 60 ton. Sedangkan pakan hijau yang dibutuhkan sebanyak 15 ribu ton. Kebutuhannya saat ini masih disediakan secara mandiri oleh para peternak.

    Simak: Kereta Klinik Disiagakan Antisipasi Letusan Gunung Agung

    Kendala lainnya adalah kurangnya bahan seperti terpal dan bambu untuk membangun kandang sementara. Saat ini ternak di evakuasi ke pengungsian ternak yang terdapat di 30 titik penampungan yang tersebar di lima kabupaten.

    Mengingat besarnya kebutuhan penanganan evakuasi dan pengamanan ternak di tempat penampungan sementara, Ditjen PKH melalui Satgas Peternakan dan Kesehatan Hewan  memfasilitasi pelaku industri di bidang peternakan yang ingin berperan serta memberikan bantuan berupa pakan ternak dan truk untuk mengevakuasi ternak. Salah satu pelaku industri yang sudah turun tangan antara lain PT CPI, pelaku industri peternakan di Bali. 

    Lihat: Lawak Bali Bondres Hibur Pengungsi Gunung Agung

    Perusahaan tersebut memberikan 50 ton pakan konsentrat sapi.  Pakan langsung didistribusikan hari ini ke titik-titik penampungan ternak di lima kabupaten. Selain itu, PT CPI juga meminjamkan tiga unit truk untuk evakuasi. "Diharapkan dapat segera meringankan beban peternak yang ternaknya berada di tempat penampungan," kata Peraphon Prayooravon, President East Area PT CPI.

    Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan Gunung Agung saat ini berstasus Awas akibat tingginya aktivitas vulkanik. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo mengatakan tingginya gempa vulkanik menunjukkan masih berlangsungnya dorongan magma ke permukaan. Pengamatan visual tanda-tanda erupsi masih belum terlihat. "Tidak dapat diprediksi pasti kapan  Gunung Agung akan meletus," ujarnya. 

    VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.