Jumat, 16 November 2018

Edhi Sunarso, Pembuat Diorama Monas dan Tugu Pancoran  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Patung Dirgantara atau lebih dikenal sebagai Patung Pancoran di Jakarta karya Edhi Sunarso, Jakarta. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Patung Dirgantara atau lebih dikenal sebagai Patung Pancoran di Jakarta karya Edhi Sunarso, Jakarta. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.COJakarta - Sejarah patung monumen di Indonesia mengukuhkan Edhi Sunarso sebagai salah seorang pelopor seni patung modern Indonesia. Ia mengerjakan 11 patung monumen sejak 1953 hingga 2000 dan sembilan diorama sejarah. Dari monumen Tugu Muda di Semarang sampai monumen pahlawan Ida Bagus Japa di Bali; dari diorama sejarah di Monumen Nasional Jakarta pada 1963 sampai diorama sejarah Museum Tugu Pahlawan 10 November di Surabaya pada 2003.

    Edhi Sunarso wafat Senin, 4 Januari 2016 pada pukul 22.53. Jenazah disemayamkan di rumah duka Griya Seni Kustiyah Edhi Sunarso, Desa Nganti RT 02 RW 07, Jalan Cempaka No. 72, Mlati, Sleman, Yogyakarta, dan akan dimakamkan di makam seniman Imogiri. Jenazah akan diberangkatkan dari rumah duka pukul 13.00, Selasa, 5 Januari 2016.

    Reputasinya sebagai pematung mo­numen bukannya tak berisiko. Pernah suatu ketika ia dikenal sebagai pematung proyek atau seniman patung pesanan. Toh, ia tak peduli. ”Saya membuat patung monumen sebagai peng­abdian,” katanya ketika berpameran tunggal di Jogja Gallery. Pameran patung Edhi Sunarso ini pernah dimuat Majalah Tempo edisi 25 Januari 2010.

    Sebagian besar hi­dupnya, selain sebagai dosen ­patung di Sekolah Tinggi Seni Rupa ASRI Yogyakarta (kini ISI Yogyakarta), ia habiskan untuk menggarap patung monumen dan diorama sejarah. ”Saya sebagai seniman terkadang merasa je­nuh dengan pekerjaan diorama ini. Bukan hanya waktu pengerjaannya sangat lama, melainkan kebebasan berekspresinya pun ikut terkungkung,” ujar Edhi. Tak aneh, sebagai seniman patung, karya patung individualnya sedikit jumlahnya, sebagaimana yang dipamerkan di Jogja Gallery itu. 

    Sebagai pembuat patung monumen dan diorama sejarah, Edhi harus taat dengan narasi untuk menggalang rasa nasionalisme. Secara visual pun ia harus menggunakan citraan realis. Pada patung monumen, ia menampilkan figur ekspresif, sangat maskulin, dan punya karakter gerak. Misalnya karya patung Pembebasan Irian Barat, berupa sosok pria dengan tubuh berotot, tangan mengepal, dan mulut terbuka seperti sedang berteriak. 

    Pada karya patung Dirgantara di Jakarta, sosok laki-laki dengan kaki kukuh menopang tubuh melengkung bak siap melesat ke udara. Kemampuan membuat patung realis ia peroleh dari gurunya, pelukis Hendra Gunawan, yang juga membuat patung pada masa itu, hingga mempelajari anatomi dari dosen Universitas Gadjah Mada. 

    Namun, pada karya individualnya, Edhi bergerak lebih dinamis. Ia menggarap patung dari citraan realis ke bentuk deformatif (pemiuhan) hingga abstrak. Perubahan itu tampak sejak ia belajar di Departemen Seni Rupa Universitas Visva Bharati, Shantiniketan, India, pada 1955. Kecenderungan baru itu berlanjut setelah ia kembali ke Indonesia dua tahun kemudian. Pada sejumlah karyanya, ia memanfaatkan keindahan serat kayu sonokeling untuk mengolah bentuk, volume, dan ruang, yang menghasilkan abstraksi bentuk figur atau torso wanita.

    Pada beberapa karya, Edhi bahkan nyaris meninggalkan bentuk figur manusia. Hanya kesan gerak dan beberapa bagian yang secara samar mengisyaratkan bagian tubuh manusia. Misalnya pada karya Torso#1 (1958), berupa torso perempuan yang menunjukkan bagian pinggul ke bawah melebar, sedangkan tubuh bagian atas meliuk langsing dengan dua buah dada hanya berupa gundukan kecil. Pada karya ini, gerak tubuh wanita yang gemulai diolah lewat penyederhanaan bentuk sehingga menampilkan sensualitas yang lembut. ”Inilah yang menjadi ciri khas karyanya,” ujar Anusapati, kurator pameran.

    Merebaknya modernisme lewat gaya abstrak (nonrepresentasional) pada 1970-an tak banyak berpengaruh pada karya patung Edhi. Hanya beberapa karyanya yang betul-betul bercorak abstrak, misalnya Keseimbangan, berupa dua pilar melengkung secara ho­rizontal dengan dua bentuk bulat pada ujung yang berbeda. Sebaliknya, abstraksi bentuk figurlah yang paling menonjol pada karya individual Edhi, yang kemudian berpengaruh pada karya banyak seniman patung yang ia didik di Sekolah Tinggi Seni Rupa ASRI.

    Berbeda dengan pematung lain yang kebanyakan hidup dari karya ­patung individual, Edhi hidup sepenuhnya dari proyek patung. Selama itu, ia hanya bisa mengikuti pameran patung bersama. Edhi baru bisa menggelar pameran tunggal saat perannya surut dengan usia yang menua, ketika rezim politik berganti, saat gelora nasionalis­me bukan lagi merupakan proyek politik yang seksi. Namun satu hal yang tak dapat disangkal, dialah perintis patung mo­numen di negeri ini, dengan meng­ubah kemustahilan teknis menjadi keniscayaan.

    RAIHUL FADJRI, SUNUDYANTORO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.