Soal Pers, Ahok: Bad ya Bad, Good ya Good  

Jum'at, 10 Februari 2017 | 07:39 WIB
Soal Pers, Ahok: Bad ya Bad, Good ya Good  
Gubernur DKI Jakarta nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok usai menjalani sidang lanjutan kasus dugaan penistaan agama di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, 24 Januari 2017. Ahok beserta kuasa hukumnya menyatakan keberatan terhadap kesaksian sejumlah saksi yang tidak kredibel. ANTARA/Muhammad Adimaja

TEMPO.CO, Jakarta - Masih dalam suasana Hari Pers Nasional, calon Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, turut mengucapkan selamat kepada insan pers sekaligus mengkritik mengenai pemberitaan di Indonesia. "Hari pers, ya, pers harus memberitakan kebenaran dong," kata Ahok kepada wartawan di Kembangan, Kamis, 9 Februari 2017.

Ahok meningatkan agar wartawan memberitakan sesuai dengan fakta yang ada. "Jangan bad news is a good news, itu enggak benar," katanya. "Bad ya bad, good ya good, jangan dibolak-balik," kata dia.

Baca juga:
Soal Pers, Fadli Zon: Media-media Kita Makin Partisan
Soal Aturan Berita Bohong di RUU KUHP, Ini Kata Dewan Pers

Akhir-akhir ini, Ahok kerap mendapat sorotan pemberitaan. Khususnya sejak kasus penistaan agama menjerat Ahok September tahun lalu. Pemberitaan ini membuat elektabilitasnya anjlok. Apalagi, saat ini, ia sedang mencalonkan diri sebagai calon gubernur inkumben DKI Jakarta.

Sejak Januari, beberapa lembaga survei mencatat elektabilitas Ahok mulai merangkak naik. Ahok disebut-sebut telah memperbaiki komunikasi. Sebelumnya, ia sering dikritik karena memberi pernyataan yang dianggap kasar.

Hari ini jurnalis dan masyarakat pers memperingati Hari Pers Nasional. Puncak peringatan digelar di Ambon. Presiden Joko Widodo datang ke Ambon untuk memperingati hari pers. Selain itu, sejumlah wartawan terbaik tahun ini juga mendapatkan penghargaan Adinegoro pada Hari Pers Nasional, termasuk Tempo.

AVIT HIDAYAT

Simak:
Chappy Hakim Minta Maaf dan Bantah Pukul Anggota DPR

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Berita Terbaru