Salat Jumat di Monas, Jokowi Khawatir JK Masuk Angin  

Jum'at, 02 Desember 2016 | 16:20 WIB
Salat Jumat di Monas, Jokowi Khawatir JK Masuk Angin  
Presiden Joko Widodo beserta wakilnya Jusuf Kalla, didampingi sejumlah Menterinya menembus hujan untuk Salat Jumat berjamaah bersama massa aksi Super Damai, 2 Desember 2016. Tempo/Egi Adyatama

TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo ternyata sempat memikirkan kondisi kesehatan Wakil Presiden Jusuf Kalla sebelum memutuskan salat Jumat bersama peserta aksi damai 2 Desember di Monas. Jokowi mengaku takut Jusuf Kalla masuk angin karena saat itu di kawasan Monas tengah dilanda hujan deras.

”Yakin Pak (JK) mau ikut? Enggak takut masuk angin?” ujar Presiden Joko Widodo mencoba meyakinkan Jusuf Kalla sebelum meninggalkan Istana Kepresidenan ke Monas, Jumat, 2 Desember 2016.

Jusuf Kalla menjawab pertanyaan Presiden Joko Widodo itu dengan tertawa. JK, yang hadir di Istana Kepresidenan mengenakan baju koko warna putih, mengatakan siap mengikuti apa pun keputusan Presiden Joko Widodo, tak terkecuali salat Jumat di Monas sambil berhujan-hujanan.

“Saya ikut Bapak saja. Silakan sebaiknya bagaimana,” ujar Kalla sambil tersenyum. Keduanya pun pergi bersama menunaikan salat Jumat bersama peserta aksi di Monas.

Sebelum akhirnya memutuskan salat Jumat bersama peserta aksi, menurut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Presiden sempat mempertimbangkan banyak hal. Salah satunya, kata dia, kesehatan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Apalagi saat itu hujan.

Lukman menuturkan, Jokowi sempat ingin mengurungkan niat untuk salat Jumat bareng di Monas karena hujan. Namun Presiden akhirnya menerobos hujan demi menghampiri peserta aksi dan salat bersama mereka.

“Putusan itu diambil mendekati azan salat Jumat tadi, jadi memang tenggang waktunya sangat singkat sekali,” ujar Lukman saat memberikan keterangan di Istana Kepresidenan.

ISTMAN M. P.

Baca juga:
Prabowo Ungkap Obrolan dengan Aktivis yang Dituduh Makar
Begini Cuitan Ahmad Dhani Sebelum Ditangkap Polisi




Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan