Hendropriyono: Pemberian Tanda Kehormatan Hak Presiden

Kamis, 07 Oktober 2004 | 20:05 WIB
Hendropriyono: Pemberian Tanda Kehormatan Hak Presiden
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) A.M. Hendropriyono mengatakan pemberian tanda pangkat kehormatan bintang empat kepada Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan ad interim Hari Sabarno dan dirinya merupakan hak presiden.

Hendropriyono balik mempertanyakan pihak-pihak yang mempermasalahkan penganugerahan tanda kehormatan tersebut. "Ini kok jadi masalah besar sih, kan banyak lainnya yang juga dapat," kata Hendropriyono kepada wartawan usai menghadiri pelantikan duta besar di Istana Negara, Jakarta, Kamis (7/10).

Menurut Hendropriyono, pemberian tanda kehormatan berupa kenaikan pangkat dari letnan jenderal menjadi bintang empat, jenderal, menunjukkan penghargaan presiden sebagai atasannya karena dinilai telah menyelesaikan tugas dengan baik.

Hal yang sama juga pernah diberikan kepada Achmad Taher, Susilo Sudarman dan Yogi S. Memet. Sebagai hak dari Presiden, maka keputusan itu diambil langsung oleh Presiden Megawati.

Ketika ditanyakan apakah perlu melewati pertimbangan Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti) TNI? Hendropriyono menjawab, "Memang perlu pakai begitu? Saya dapat anugerah langsung dari atasan, dari Presiden."

Dia mengaku menerima surat Keputusan Presiden pada 3 Oktober lalu bersama Hari Sabarno. Surat itu sendiri ditandatangani Presiden pada 2 Oktober. Soal tanda kehormatan itu diberikan setelah mereka berdua menjadi purnawirawan, Hendro mengatakan kondisi yang sama juga terjadi saat tanda kehormatan itu diberikan kepada Thaher, Susilo Sudarman maupun TB Silalahi.

Hal senada diungkapkan Hari Sabarno di tempat yang sama. Menurutnya pemberian tanda kehormatan seperti itu sudah ada sejak masa Presiden Soeharto. "Runut saja ke belakang, yang dapat dalam status purnawirawan bukan saya dan Hendro saja. Anda cari itu," katanya.

Hari mengatakan pemberian tanda kehormatan merupakan hak seorang presiden, termasuk kapan akan diberikan kepada seseorang. "Saya cuma bisa menerima begitu saja, terus mau apa? Saya tidak pernah meminta-minta, tidak pernah mengemis jabatan. Itu tak ada dalam kamus saya," katanya dengan nada meninggi.

Sapto P - Tempo

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan