Isu Komunisme Masih Dianggap Instrumen Politik yang Efektif

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Adegan film Penumpasan Penghianatan G30S/PKI. indonesianfilmcenter.com

    Adegan film Penumpasan Penghianatan G30S/PKI. indonesianfilmcenter.com

    TEMPO.CO, Situbondo - Pengamat politik pertahanan dan keamanan, Hermawan Sulistyo, mengatakan isu PKI dan komunisme dianggap instrumen politik yang masih efektif di Indonesia. Hermawan menyebut  banyak kelompok Islam yang menggunakan isu ini untuk menyerang eks PKI. Isu komunisme kembali muncul sehubungan dengan rencana TNI Angkatan Darat memutar film Pengkhianatan G 30S PKI.

    "Sementara itu eks PKI sendiri juga banyak yang mau menghidupkan PKI. Ini yang jadi masalah," kata Hermawan Sulistyo kepada Tempo di Pondok Pesantren Al Munir, Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo, Minggu, 17 September 2017.

    Baca: Soal Film Penghianatan G 30 S PKI, Begini Kata Pemeran Soeharto

    Penulis buku "Palu Arit di Ladang Tebu: Sejarah Pembantaian Massal yang Terlupakan" ini melanjutkan, sebenarnya isu komunisme sudah mati. "Orang bodoh yang mau percaya komunisme itu. Persoalannya, sebagai instrumen politik, isu itu masih efektif," kata Hermawan.

    Di Pondok Pesantren Al Munir, Hermawan menjadi pembicara dalam acara 'Silaturahmi dan Halaqah Ulama, Umaro dan Tokoh Masyarakat'. Menurut Hermawan, secara akademis masalah itu merupakan pelajaran buruk karena setiap bulan September isu PKI mengemuka kembali. "Bangsa ini seperti tidak pernah belajar."

    Isu komunisme mencuat sehubungan dengan rencana TNI Angkatan Darat memutar kembali film Pengkhianatan G 30 S PKI. TNI AD memberikan instruksi kepada seluruh jajarannya di daerah untuk mengajak masyarakat secara bersama-sama menonton film tersebut.

    Sejarawan dari Universitas Indonesia, Susanto Zuhdi, menilai pemutaran film itu tak masalah dilakukan walaupun berbeda pesannya dengan era pemerintahan Orde Baru. "Kalau dulu semacam indoktrinasi atau semacam pembentukan opini, ada tujuan-tujuan Orde Baru," ujar dia. Sekarang, menurut Susanto, publik semakin kritis, film-film tandingan juga semakin banyak. "Dari segi ini pembelajaran sejarah jadi menarik."

    Susanto menjelaskan, pemutaran kembali film ini bisa saja untuk menepis isu-isu PKI yang tengah berkembang dan menguatkan ideologi Pancasila. "Kalau arahnya pada ideologi, saya kira pemerintah melihat itu positif," ucap Susanto.

    Susanto menambahkan, masyarakat sekarang semakin kritis dalam menanggapi sebuah film. Pemutaran film G 30S PKI akan mengundang diskusi. "Dari segi publik jangan terlalu dikhawatirkan, yang semakin kritis."

    SYAFIUL HADI | DAVID PRIYASIDHARTA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berbagai Cara dalam Menekan Pelanggaran Batasan Bawaan Penumpang

    Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terus berupaya menekan pelanggaran batasan bawaan penumpang dari luar negeri di pintu masuk bandara.