Walhi: Tak Heran Harimau Sering Masuk Kampung, Sebabnya...

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alat berat membersihkan puing bangunan rumah semi permanen para penambang yang terbakar di daerah aliran sungai Anahoni kawasan pertambangan emas ilegal Gunung Botak, Pulau Buru, Maluku, 18 November 2015. Setelah tambang emas ilegal di gunung Botak ditutup pada hari Sabtu (14/11), pemerintah daerah setempat berencana membangun tambang emas legal di kawasan tersebut. ANTARA/Jimmy Ayal

    Alat berat membersihkan puing bangunan rumah semi permanen para penambang yang terbakar di daerah aliran sungai Anahoni kawasan pertambangan emas ilegal Gunung Botak, Pulau Buru, Maluku, 18 November 2015. Setelah tambang emas ilegal di gunung Botak ditutup pada hari Sabtu (14/11), pemerintah daerah setempat berencana membangun tambang emas legal di kawasan tersebut. ANTARA/Jimmy Ayal

    TEMPO.CO, Jakarta - Adanya tumpang tindih kawasan hutan dan aktivitas pertambangan juga membawa dampak negatif bagi masyarakat, hewan, serta ketersediaan sumber daya alamnya. Mulai dari bencana alam, hewan hutan masuk ke permukiman, hingga habis sumber daya alam hutan.

    "Kalo dampak masyarakat, itu kan kawasan hutan, jelas ini akan membahayakan apalagi di Sumatera Barat itu bentuknya perbukitan yang terjal dan rata-rata ada kawasan tambang tersebut yang berada di dataran tinggi atau ketinggian. Jika terjadi hujan akan berpotensi mengakibatkan longsor atau banjir bandang. Karena ada kawasan pertambangan di aliran sungai," kata Yoni Candra, Manager Advokasi dan Kampanye Walhi Sumatera Barat saat Konferensi Pers di WALHI Eksekutif Nasional di Jakarta, 15 Agustus 2017.

    Baca juga:

    Harimau 'Bertamu' di Tengah Permukiman, Warga Indragiri Hilir Resah

    Curah hujan sudah mulai tidak terkendali karean tidak ada penahannya, tanah longsor, dan banjir bandang adalah dampak dari aktivitas penambang. Penolakan masyarakat telah terjadi karena dampak yang mereka rasakan. Hal ini karena wilayah Izin Usaha Pertambanan (IUP) berada di perbukitan, sedangkan penduduk berada di dataran rendah. Apalagi dengan penggunaan teknologi yang semakin canggih dalam pertambangan.

    Yoni juga menambahkan dalam hitungan tahun, sumber daya alam di hutan Sumatera Barat bisa habis dengan cepat karena aktivitas pertambangan tadi.
    Bisa dalam hitungan tahun. Kalo pemanfaatan sumber daya alam itu kan cepat sekali. Apalagi sekarang ini menggunakan teknologi yang begitu canggih untuk mendukung aktivitas pertambangan.

    Baca pula:

    Harimau Sumatera Masuk Kampung, Warga Panik, BBKSD: Numpang Lewat

    "Bisa jadi hitungannya 1 tahun, 5 tahun, bahkan 10 tahun. Karena rata-rata perusahaan itu kan ada yang melakukan operasi produksi sudah memanfaatkan. Nggak lama itu kalo untuk menghabiskan. Makanya ini sangat urgent. Makanya kita bilang hutan Sumatera Barat itu terancam punah. Karena hutan itu berada di kawasan IUP. Karena orang yang sudah punya kewenangan, sudah punya kewenangan untuk memanfaatkan, ya langsung diambil aja. Maka perlu tindakan tegas dari pemerintah," kata Yoni Candra.

    Selain dampak bencana alam yang diterima masyarakat sekitar kawasan IUP dan akan cepat habisnya sumber daya alam hutan Sumatera Barat, Walhi memastikan keanekaragaman fauna pun ikut terancam. Hal ini karena aktivitas penambangan mengurangi lahan tempat tinggal hewan-hewan di hutan.

    "Ya pasti itu kan karena hutan itu tempat dia hidup kan. Ada juga beberapa seperti harimau itu sudah memasuki perkampungan. Itu kan tanda berarti bahwasanya sudah berkurang luasan kawasan untuk dia hidup," kata Yoni Candra.

    MEIDIKA SRI WARDIANA   I   S. DIAN ANDRYANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sulli dan Artis SM Entertaintment yang juga Tewas Bunuh Diri

    Sulli, yang bernama asli Choi Jin-ri ditemukan tewas oleh managernya pada 14 Oktober 2019. Ada bintang SM lainnya yang juga meninggal bunuh diri.