Pemerintah Harus Segera Tangani 90 Kematian Balita di Papua

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang dokter memeriksa balita di kawasan Muara Angke Kampung Baru, Pluit, Jakarta, (9/3). Program pengobatan gratis ini diharapkan dapat menekan angka kematian balita di Indonesia. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Seorang dokter memeriksa balita di kawasan Muara Angke Kampung Baru, Pluit, Jakarta, (9/3). Program pengobatan gratis ini diharapkan dapat menekan angka kematian balita di Indonesia. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah diminta tak meremehkan kabar 90 kematian balita di Kabupaten Deiyai, Papua secara beruntun dalam lima bulan terakhir. “Semestinya pemerintah bisa bergerak cepat menangani kejadian tak biasa ini karena wabah hanya terjadi di satu kabupaten,” demikian Editorial Koran Tempo edisi Kamis,  3 Agustus 2017.

    Redaksi Koran Tempo mencatat, bukannya segera menangani kasus ini agar tidak bertambah korban, pemerintah daerah justru berkelit bahwa kematian balita hanya memakan 27 korban jiwa. Itupun meninggal bukan karena wabah tapi rendahnya kesadaran hidup bersih.

    Baca: Siapa Jenderal Peneror Novel Baswedan

             Bupati Pamekasan Ditangkap, Diduga Karena Ini

    Segendang sepenarian dengan Pemerintah Kabupaten Deiyai, Kementerian Kesehatan menunjuk sebab lain kematian balita itu:  rendahnya kesadaran warga untuk melakukan imunisasi.

    Di Deiyai ditemukan banyak kasus balita meninggal dengan gejala campak. Selain campak, banyak anak menderita diare, infeksi saluran pernapasan, dan disentri. Campak merupakan penyakit menular. Setiap empat menit, satu anak di dunia meninggal karena penyakit ini.

    Selengkapnya, klik di siini

    INDONESIANA | ISTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.