Balada Siti Rokayah, Ibu Digugat Anak Sampai Rp 1,8 Miliar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tergugat Siti Rokayah (85) alias Amih kasus perdata utang piutang sebesar Rp1,8 Miliar usai menghadiri persidangan di rumahnya Jalan Raya Bayongbong, Garut Kota, Jawa Barat, 30 Maret 2017. ANTARA FOTO

    Tergugat Siti Rokayah (85) alias Amih kasus perdata utang piutang sebesar Rp1,8 Miliar usai menghadiri persidangan di rumahnya Jalan Raya Bayongbong, Garut Kota, Jawa Barat, 30 Maret 2017. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Kisah Siti Rokayah, 83 tahun, bukan cerita sinetron. Tak pernah terpikirkan olehnya, anak kandung dan menantunya melakukan gugatan kepadanya sampai membawanya di kursi pesakitan di Pengadilan Negeri Garut. Total jumlah uang yang harus ia bayarkan sampai Rp 1,8 miliar, angka yang tak pernah terbayangkannya. Inilah jalan panjang balada ibu tua ini, diseret kemeja hijau oleh darah dagingnya sendiri.

    Baca juga:

    Gugat Ibu Rp 1,8 M, Anak: Kalau Menang, 50 Persen Dikasih ke Ibu

    2001

    Kasus yang menjerat Siti Rokayah dalam gugatan anak sendiri itu, berawal tahun 2001 ketika anak keenam Rokayah yakni Asep Ruhendi tidak dapat melunasi  pinjaman ke Bank BRI Cabang Garut sebesar Rp 40 juta. Kemudian Handoyo membantu dengan memberikan pinjaman. Sebesar Rp 21,5 juta diberikan sebagai pinjaman pertama untuk Asep Ruhendi melalui tranfer.  Belum sempat memberikan sisanya, akhirnya utang dilunasi oleh anggota keluarga yang lainnya. Sementara Handoyo mengaku sudah memberikan semuanya tapi Asep bertolak belakang dengan tidak mengaku menerima uang tersebut.

    Oktober 2016

    Yani Suryani datang ke Garut membujuk Siti Rokayah untuk menandatangani surat pengakuan berhutang yang dibuat bersama suaminya. Yani memohon karena akan dicerai bila tidak mendapat tandatangan pengakuan utang itu. Merasa kasian Siti Rokayah mau membubuhkan tandatangan yang disaksikan anggota keluarga lainnya. "Saya beserta saudara yang lainnya juga turut tanda tangan menjadi saksi di surat itu," ujar Eep Rusdiana, salah satu anak Siti.

    Jumlah Gugatan:

    Siti Rokiyah dalam surat utang disebutkan berhutang 501,5 gram emas. Dengan nilai utang saat itu sebesart Rp 40.274.904 yang  disepakati setara harga emas murni pada tahun 2001 silam sebesar Rp 80.200 per gram. Nah dalah gugatan, Handoyo  mengkonversikan dengan nilai saat ini sebesar Rp 640.352.000. Selain itu Handoyo juga menuntut kerugian imateril sebesar Rp1,2 miliar. Sehingga total yang diminta Handoyo sebesar Rp1,8 miliar.

    Baca pula:

    Anak yang Menggugat Ibu Rp 1,8 M Diminta Menghadirkan Saksi

    30 Maret 2017

    Dalam sidang kali ini Majelis hakim Pengadilan Negeri Garut menyarankan jalan keluar yang lebih baik.  Oleh hakim, Handoyo Adianto disarankan berdamai atau mencabut gugatannya kepada Siti Rokayah.  "Ini bukan masalah yang prinsipil. Semua masih memiliki hubungan darah. Lebih baik islah," ujar ketua Majelis Hakim Endratno Rajamai, di ruang Sidang. Handoyo langsung menanggapi dan mengaku tidak ada masalah dengan keluarga mertuanya. "Saya ingin perkara ini tuntas," ujarnya.

    13 April 2017

    Kisah pilu Siti Rokayah membuat Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi tergerak menghadiri sidang gugatan di Pengadilan Negeri Garut.  "Ini urusan ibu dengan anaknya bukan urusan perusahaan. Jadi seharusnya tidak perlu dibawa ke persidangan,” ujar Dedi yang mengaku sudah beberapa kali bertemu Siti Rokayah.

    “Sudah beberapa kali sempat ketemu Ibu Rokayah, saya janji untuk datang ke sidang tapi baru sempat hari ini."

    Baca pula:

    Anak Gugat Ibu di Garut, Hakim Sarankan Islah Sebelum Putusan

    14 Juni 2017

    Pengadilan Negeri Garut akhirnya membebaskan Siti Rokayah dari gugatan anak kandungnya Yani Suryani berserta suaminya, Handoyo Adianto. Alasan pembebasan Siti, karena sang anak tidak bisa menghadirkan syarat dan bukti formil utang piutang yang menjadi materi gugatan. Selain itu masalah rumah milik Amih yang disengketakan dinilai hakim tidak sesuai dengan gugatan.

    Air mata Siti Rokayah, perempuan tua itu tak terbendung usai majelis hakim mengetuk palu. Isak tangis terdengar hampir disetiap sudut ruang sidang.

    EVAN/PDAT Sumber Diolah Tempo   I   S. DIAN ANDRYANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.