SBY Ingatkan Pemerintah Tak Kendur Atasi Kemiskinan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (tengah), ditemani sejumlah keluarga dan kerabat, memberikan keterangan pers di kediaman pribadinya di kawasan Kuningan, Jakarta, 14 Februari 2017. SBY membantah apa yang dikatakan mantan ketua KPK Antasari Azhar, dan menganggap pernyataan tersebut menyudutkan dirinya dan anaknya Agus Yudhoyono. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (tengah), ditemani sejumlah keluarga dan kerabat, memberikan keterangan pers di kediaman pribadinya di kawasan Kuningan, Jakarta, 14 Februari 2017. SBY membantah apa yang dikatakan mantan ketua KPK Antasari Azhar, dan menganggap pernyataan tersebut menyudutkan dirinya dan anaknya Agus Yudhoyono. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.COSemarang - Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengingatkan pemerintah untuk tidak mengendurkan upaya memberantas kemiskinan yang selama ini sudah berjalan. "Di negeri ini, angka kemiskinan, saudara-saudara yang tidak mampu dan miskin masih relatif tinggi," kata SBY saat Safari Ramadan Partai Demokrat Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta di Semarang, Selasa, 13 Juni 2017.

    Dalam acara Safari Ramadan di Hotel Gumaya Tower, Semarang, itu, SBY didampingi Ani Yudhoyono beserta kedua putranya, Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono. Pada era pemerintahannya, menurut SBY, angka kemiskinannya terus menurun meskipun secara angka masih tetap tinggi.

    Baca: 
    Gubernur Ganjar Akui Tingginya Kemiskinan di Jawa Tengah

    Ada dua persoalan yang dihadapi bangsa. Pertama, kata SBY, tugas negara adalah menurunkan angka kemiskinan. "Program pengentasan kemiskinan yang dulu dijalankan dengan sangat masif dan intensif, ke depan, harapan dan saran kepada negara dan pemerintah saat ini, jangan dikendurkan, apalagi dihilangkan."

    Persoalan kedua, SBY menjelaskan, ketimpangan atau sering disebut kesenjangan sosial dan ekonomi yang sebenarnya tidak hanya dialami Indonesia, tapi juga negara-negara lain.

    Baca: SBY: Penurunan Angka Kemiskinan Bukan Bohong

    Kalau sebuah negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, yakni lebih dari 4 persen, konsekuensi yang tidak disadari adalah terjadi kesenjangan sosial dan ekonomi yang makin lebar. "Makanya kami harus terus mengingatkan kader-kader Demokrat yang ada di pemerintahan untuk menjalankan agar apa yang dibangun pemerintah pusat dan daerah bukan hanya serba benda," kata SBY.

    Baca: SBY: Kemiskinan Harus Diakhiri

    Pembangunan, menurut SBY, bukan hanya infrastruktur atau serba materi, melainkan juga manusianya supaya lebih meningkatkan harkat dan martabat rakyat yang masih miskin. "Anggaran untuk membangun infrastruktur dengan anggaran untuk mengurangi kemiskinan harus berimbang. Kita ingin infrastruktur makin baik, tapi rakyat tidak boleh ditelantarkan lantaran anggarannya kurang."

    SBY juga mengingatkan pemerintah mendorong perusahaan besar di Indonesia membantu upaya mengurangi angka kemiskinan. "Terutama yang besar dan raksasa untuk meningkatkan apa yang disebut CSR (corporate social responsibility). Bentuknya apa? Berikan bantuan kepada masyarakat, utamakan mereka yang tergolong ekonomi lemah," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.