Dharmasanti Waisak, Umat Buddha Turut Jaga Kebhinekaan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Biksu Budha menebar air suci kepada warga di sepanjang jalur kirab dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, 10 Mei 2017. Salah satu rangkaian Prosesi Waisak 2017 ini adalah kirab yang diikuti oleh biksu dan umat. Tempo/Budi Purwanto

    Biksu Budha menebar air suci kepada warga di sepanjang jalur kirab dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, 10 Mei 2017. Salah satu rangkaian Prosesi Waisak 2017 ini adalah kirab yang diikuti oleh biksu dan umat. Tempo/Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Pangkalpinang - Peringatan Dharmashanti Waisak 2561 di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menitikberatkan pentingnya menjaga kebhinekaan dalam kebersamaan. Umat Buddha diminta turut menjaga kebhinekaan yang saat ini sedang diuji ketahanannya akibat proses politik di DKI Jakarta.

    "Kita ingin menjaga kerukunan umat dan hubungan keluargaan di Bangka Belitung yang sudah terbina ini tetap terjaga dan tidak terkoyak. Apalagi sudah ada masalah di DKI Jakarta dan daerah lain cukup membuat kita prihatin," kata Ketua Kegiatan Dharmasanti Waisak Bangka Belitung Abet Suhaian kepada Tempo, Kamis, 26 Mei 2017. (Baca: Pemda Nusa Tenggara Timur Akan Membangun Monumen Garuda Pancasila )

    Menurut dia, di Bangka Belitung hubungan kekeluargaan dan kerukunan umat beragama sudah sangat baik. "Terbukti dengan banyaknya kawin silang," ucapnya.

    Abet mengatakan melalui perayaan Dharmasanti Waisak tahun ini, umat Buddha diminta untuk melaksanakan kegiatan untuk internal saja. Umat Buddha dalam pesan perayaan juga diminta lebih terbuka dengan bersosialisasi dan berinteraksi dengan masyarakat lain.

    "Kegiatan dharmasanti nanti akan kami undang para tokoh dan pemuka agama lain untuk hadir. Kami ingin memperlihatkan bahwa kerukunan umat beragama di Bangka Belitung masih tetap terjaga selama ini," ujar dia. (Baca: Marak Radikalisme, Pemuda Buleleng: Pancasila Sudah Harga Mati)

    Abet menambahkan, kebhinekaan merupakan faktor sakral dalam menjaga keutuhan bangsa. Untuk itu setiap umat Buddha dan umat beragama lain harus tetap menjunjung tinggi dan menghargai perbedaan. Kegiatan umat Buddha, kata dia, selalu libatkan masyarakat lainnya.

    "Contohnya kegiatan kami melakukan napak tilas," ujar dia.

    Dia menuturkan, sebanyak 100 orang umat Buddha dan 100 orang umat beragama lainnya turut serta. "Alangkah indahnya saat kita bisa berkumpul, bermain dan makan bersama tanpa melihat perbedaan suku dan agama," ujar dia. (Baca: Cegah Konflik SARA, Warga Singkawang Deklarasi Kebhinekaan)

    Abet melanjutkan, dia menyatakan prihatin dengan insiden teror bom di terminal Kampung Melayu, Jakarta, Rabu 24 Mei 2017. Menurutnya, teror itu merupakan perbuatan oknum yang tidak bertanggung jawab.

    "Kalau perbuatan oknum, jangan kita menilai semuanya sama dengan oknum itu. Mungkin itu akibat oknum tersebut kurang baik menjalankan dan memahami agama serta kurang menghayati pancasila. Kami turut berduka atas aksi tersebut. Semoga ke depan tidak terulang lagi," tuturnya. (Baca: Bom Kampung Melayu, Pakar UI: Targetnya Memecah Belah Bangsa)

    SERVIO MARANDA
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kebijakan Bebas Visa bagi Indonesia di Brasil dan Empat Negara

    Sejumlah negara baru saja mengeluarkan kebijakan bebas visa bagi para pemegang paspor Indonesia, bukti bahwa paspor Indonesia semakin kuat di dunia.