Senin, 21 Agustus 2017

Bom Kampung Melayu, Pakar UI: Targetnya Memecah Belah Bangsa

Kamis, 25 Mei 2017 | 07:00 WIB
Anggota kepolisian menyisir lokasi kejadian pasca terjadi ledakan bom di dalam Halte Transjakarta, di Terminal Kampung melayu, Jakarta, 25 Mei 2017. Peristiwa tersebut menelan 15 korban, terdiri dari 10 orang luka dan lima lainnya meninggal dunia. TEMPO/Rizki Putra

Anggota kepolisian menyisir lokasi kejadian pasca terjadi ledakan bom di dalam Halte Transjakarta, di Terminal Kampung melayu, Jakarta, 25 Mei 2017. Peristiwa tersebut menelan 15 korban, terdiri dari 10 orang luka dan lima lainnya meninggal dunia. TEMPO/Rizki Putra.

TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat Timur Tengah dan Islam dari Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi, mengatakan sikap umat Islam harus satu dalam menghadapi terorisme di Indonesia, yakni mengecam dan tidak memberikan ruang sekecil apa pun terhadap justifikasi tindakan teror.

"Target terorisme adalah memecah belah bangsa," ucap Yon di Jakarta, Kamis, 25 Mei 2017. Ia mengatakan itu untuk menanggapi peristiwa dua ledakan yang diduga bom bunuh diri di Kampung Melayu pada Rabu malam kemarin. (Baca: Kondisi Terkini Lokasi Bom Bunuh Diri di Kampung Melayu)

Terorisme, ujar Yon, bukan aksi tidak rasional. Menurut dia, tindakan itu benar-benar mempelajari kondisi sosial-politik dan serta berusaha mendapatkan simpati atas aksi-aksinya.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya UI itu menjelaskan, aksi bom di Kampung Melayu jelas menunjukkan adanya target untuk menciptakan ketakutan di masyarakat karena dilakukan di sarana publik, yaitu terminal. Di samping itu, tutur dia, mereka berusaha memecah belah bangsa dengan menargetkan aparat kepolisian.

"Sekarang ini, kan, kepercayaan sebagian umat Islam terhadap kepolisian sedang mengalami penurunan," kata Yon. (Baca: Ayah Korban Bom Bunuh Diri di Kampung Melayu: Doakan Anak Saya...)

Dia berujar, para teroris membaca fenomena ini dan berusaha mendapatkan simpati dari umat Islam atas tindakannya itu. Namun, ucap Yon, umat Islam di Indonesia kini cukup cerdas membaca sabotase yang dilakukan kelompok teroris. Ia berharap apa pun bentuk aksi terorisme tidak akan pernah mendapatkan tempat di hati umat Islam.

"Publik di Indonesia, terutama umat Islam, cukup rasional dan tidak akan pernah bersimpati terhadap aksi-aksi terorisme," tuturnya.

Penyandang gelar PhD dari The Australian National University itu mengatakan umat Islam Indonesia paham betul kapan harus mengkritisi kepolisian dan kapan harus bersama-sama dengan kepolisian. Dalam kasus terorisme, ucap Yon, umat Islam selalu bersama kepolisian untuk memerangi segala bentuk terorisme. Dengan demikian, aksi-aksi terorisme tidak akan mendapatkan tempat di Indonesia dan semakin sempit ruang geraknya. (Baca: Bom Bunuh Diri Kampung Melayu, Serpihannya Mirip Bom Panci)

Prinsipnya, ujar dia, publik tidak boleh takut dan merasa tidak aman. Selain itu, segala komponen bangsa harus sadar bahwa upaya memecah belah bangsa harus dilawan.
"Dengan demikian, aksi terorisme tidak akan dapat mencuri momentum apa pun," tutur Yon.

ANTARA

 








 


Grafis

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Warga muslim di Asgardia tetap dapat melaksanakan ibadah salat di luar angkasa, bagaimana tata cara yang dianjurkan?