Hak Angket ke KPK, Basaria Panjaitan: Kayaknya Tidak Jadi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan (kanan) dan Juru bicara KPK Febri Diansyah memberikan keterangan tentang penetapan tersangka kasus korupsi penerbitan Surat Keterangan Lunas (SKL) BLBI di Gedung KPK, Jakarta, 25 April 2017. KPK menetapkan mantan Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arsyad Temenggung sebagai tersangka. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan (kanan) dan Juru bicara KPK Febri Diansyah memberikan keterangan tentang penetapan tersangka kasus korupsi penerbitan Surat Keterangan Lunas (SKL) BLBI di Gedung KPK, Jakarta, 25 April 2017. KPK menetapkan mantan Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arsyad Temenggung sebagai tersangka. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Yogyakarta-Bergulirnya hak angket Dewan Perwakilan Rakyat pada Komisi Pemberantasan Korupsi  ditanggapi dingin oleh Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan. Basaria  yakin sidang hak angket  tidak jadi digelar. "Silakan saja, tapi saya yakin kayaknya sih tidak jadi," kata Basaria di kantor Kejaksaan Tinggi Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu, 3 Mei 2017.

    KPK, kata dia,  mempunyai hak dan diatur oleh undang-undang. Dalam proses penyidikan, ujar Basaria, KPK punya tanggung jawab untuk melindungi apa yang dilakukan oleh para penyidiknya.

    Baca: Publik Menolak Hak Angket DPR terhadap KPK

    Proses penyidikan yang tertuang di berita acara pemeriksaan (BAP), ujar dia, tidak boleh sembarangan dibuka. Semua hasil penyidikan akan dibuka di  persidangan. Saat ini penyidik masih melakukan pengembangan penyidikan korupsi e-KTP dan diminta supaya tidak diganggu.

    "Tapi kami tidak terganggu oleh hal itu (hak angket DPR), biarlah wilayah masing-masing. Kami melakukan tugas benar-benar konsentrasi dalam penyelesaian penyidikan kasus e-KTP," kata dia.

    Menurut Basaria, hak angket tidak perlu ditolak. Soal hak angket itu salah sasarn, ia meminta tidak perlu diperdebatkan. Ihwal penetapan Miryam S Haryani sebagai tersangka karena memberikan keterangan  palsu, KPK juga punya dasar. Yaitu pasal 22 Undang-undang Tindak Pidana Korupsi karena yang bersangkutan dinilai menghalang-halangi penyidikan.

    Simak: Bambang Widjojanto Tunjukkan Kasus-kasus Layak Hak Angket DPR

    Peneliti Pusat Kajian Antikorupsi Universitas Gadjah Mada Zaenur Rohman menuturkan DPR tidak punya hak angket terhadap KPK. Karena hak angket sudah diputuskan dan akan digelar usai masa reses, ia meminta KPK tidak membuka pemeriksan terhadap kasus e-KTP atau yang berkenaan dengan substansi perkara.

    "Keterangan yang bersifat projusticia tidak boleh dibuka selain di forum pengadilan. Kalau itu dibuka justru KPK sendiri yang akan melanggar hukum. Jika DPR memaksa agar membuka informasi atau keterangan yang bersifat projusticia maka DPR melanggar undang-undang KPK maupun Undang-Undang Tindak Pidana korupsi," kata dia.

    MUH SYAIFULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Skenario Satu Arah Pada Arus Mudik 2019 di Tol Jakarta - Cikampek

    Penerapan satu arah ini dilakukan untuk melancarkan arus lalu lintas mudik 2019 dengan memanfaatkan jalur A dan jalur B jalan Tol Jakarta - Cikampek.