Saat SMA, Taufik Ismail Wajib Menulis 108 Karangan dalam 3 Tahun  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Taufik Ismail. TEMPO/Seto Wardhana

    Taufik Ismail. TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.CO, Malang - Sastrawan Taufik Ismail mengajak generasi muda untuk mencintai karya sastra. Manusia menulis sastra, kata Taufik, tak hanya menyusun untaian kata tapi mengungkapkan pikiran. Pikiran terbaru dan menyampaikan realitas sosial melalui puisi.

    "Puisi sarat nilai moral, inteligensi, dan estetika. Puisi masuk dalam setiap ruang kehidupan," ujarnya dalam diskusi memperingati Hari Puisi Nasional di Universitas Muhammadiyah, Malang, Sabtu, 29 April 2017. Taufik mengaku miris dengan tingkat literasi pelajar yang terus menurun.

    Baca juga: Taufik Ismail: Tahun Ketiga Jokowi Mirip Kebangkitan PKI

    Menurut Taufik, Indonesia akan merugi karena penurunan literasi sastra. Indonesia, kata dia, selama lebih dari separuh abad miskin membaca. Untuk itu, dia mengajak pelajar untuk melakukan transformasi literasi. Caranya dengan meningkatkan gairah membaca dan menulis sastra.

    "Biasakan menulis buku harian, untuk memupuk semangat menulis. Membaca, membaca, membaca. mengarang, mengarang, mengarang,” kata Taufik. Dia bercerita saat SMA wajib menamatkan 25 judul buku dan mengarang 108 tulisan selama tiga tahun.

    Saat ini pelajar lebih gandrung dengan media sosial dan mengabaikan membaca buku. Sedangkan kebijakan Kementerian Pendidikan, siswa SD menamatkan tiga judul buku sastra, SMP 6 judul buku, dan SMA 15 judul buku belum tercapai.

    Ahli bahasa dan sastra Indonesia dari Universitas Muhammadiyah, Malang, Arif Budi Wurianto, menjelaskan sastra merupakan bagian dari kebudayaan. Aktivitas membaca sastra akan membuat manusia menjadi bermartabat.

    "Berbicara budaya berarti berbicara nilai humanisme dan pengharkatan manusia," ujarnya. Menulis sastra, kata dia, merupakan bagian dari mengekspresikan diri tanpa tekanan.

    Dia mengisahkan Kartini yang dipingit pada zamannya. Kakak kandung Kartini, Sosrokartono, miris melihat adiknya tak bisa mengenyam pendidikan seperti dia akibat terbelenggu budaya dipingit sampai menikah.

    “Tubuhmu boleh dipingit, tapi yang bebas adalah pikiranmu. Bebaskan pikiranmu dengan membaca,” ujar Sosrokartono kepada Kartini yang ditirukan Arif Budi. Dalam memperingati hari puisi, UMM juga menyelenggarakan lomba cipta puisi dan baca 1.000 puisi oleh para siswa SMA sederajat se-Jawa Timur.

    EKO WIDIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.