Teroris Tuban, Polisi: JAD Diperintahkan Balas Dendam

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah mobil ambulance melintas mengangkut jenazah terduga teroris di jalan di Desa Suwalan, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, 8 April 2017. ANTARA FOTO

    Sejumlah mobil ambulance melintas mengangkut jenazah terduga teroris di jalan di Desa Suwalan, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, 8 April 2017. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian masih terus memburu petinggi-petinggi kelompok teror Jamaah Ansharut Daulah (JAD) lain yang tersebar di seluruh Indonesia. Kelompok ini yang bertanggung jawab atas penembakan pos polisi di Tuban, Jawa Timur, Sabtu pekan lalu. “Mereka ini terindikasi mendapatkan semacam instruksi untuk melakukan kegiatan melakukan penyerangan lanjutan kepada polisi,” kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian RI, Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar, Senin 10 April 2017.

     Boy menjelaskan, salah satu pemimpin JAD yang menjadi sorotan adalah Fauzan Mubarok. Ia adalah pemimpin Jamaah Ansharut cabang Jawa Tengah. Empat dari enam pelaku penembakan terhadap polisi di Tuban berasal dari Jawa Tengah dan diduga direkrut oleh Fauzan. “Polisi masih mencari tahu keberadaan yang bersangkutan,” ujarnya.

    Baca: BNPT Bandingkan Insiden Teroris Tuban dengan Stockholm

     Sabtu 8 April 2017 lalu, enam anak buah Fauzan menumpangi sebuah mobil Daihatsu Terios warna putih dan menembak dua polisi yang berjaga di Pos Lalu Lintas Resor Tuban, rest area hutan Jati Peteng, Jalan Raya Tuban-Semarang, Jawa Timur. Seorang polisi lalu lintas tertembak di pinggang kiri. Setelah baku tembak selama enam jam, polisi menembak mati keenamnya. Empat di antaranya adalah Adi Handoko, 34 tahun, Satria Aditama (19), Yudhistira Rostriprayogi (19), dan Endar Prasetyo (52).

     Aksi mereka ini, kata Boy, merupakan balas dendam karena pemimpin JAD Indonesia, Zainal Anshori, 50 tahun, ditangkap Detasemen Khusus 88 Antiteror sehari sebelumnya. Kepolisian menyebutkan Zainal didaulat sebagai pemimpin tertinggi JAD pada 2015 oleh pendiri organisasi —Aman Abdurrahman, yang kini mendekam di Nusakambangan karena pidana terorisme. Aman telah mendeklarasikan sumpah setia kepada kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS.

    Baca: Satu Terduga Teroris Tuban Pernah Dirawat di RS Jiwa 

     Misi teror yang dirancang Zainal, kata Boy, antara lain Bom Thamrin di Jakarta Pusat pada Januari 2016. Dalam insiden Bom Thamrin, Zainal berperan membeli lima pucuk senjata kepada kelompok ISIS di Filipina.

     Sebagai bos JAD, Zainal juga berperan menghubungkan Suryadi Mas’ud dan Nanang Kosim—teroris yang tertangkap di Cilegon, Banten—untuk menjemput senjata api dari Filipina. Zainal dan rekan-rekannya telah mengatur pembelian 17 pucuk senjata jenis M16 dan satu pucuk M14.

     Pendiri Yayasan Lingkar Perdamaian, Ali Fauzi Manzi, mengatakan Zainal dipilih oleh Aman sebagai pemimpin JAD karena dianggap memiliki kemampuan khusus. “Dia tidak punya kemampuan lapangan, tapi pintar manajerial,” kata Ali. Mantan kombatan ini mengenal Zainal sejak sekolah di sebuah pesantren di Lamongan.

    Baca: Insiden Teroris Tuban, Jokowi Panggil Kepala BNPT 

     Adapun Fauzan sebelum menjadi salah satu pemimpin JAD telah menjadi pemimpin wilayah untuk kelompok Jamah Anshorut Tauhid yang dibentuk terpidana teroris Abu Bakar Ba’asyir pada 2008. Pada Januari 2015, Fauzan pernah akan menggelar pengajian besar pendukung ISIS di Masjid Madijo Mangunkarsa, Semarang, tapi digagalkan polisi.

     Pengamat terorisme Al Chaidar mengatakan bahwa tertangkapnya Zainal membuat JAD melemah. Namun potensi aksi teror masih tetap ada. Setidaknya masih ada 4.000 anggota laskar JAD yang tersebar di 18 provinsi.

    SUJATMIKO | GRANDY AJI

    Baca: Kejar Teroris Tuban, Polisi Ini Baru Sadar Tertembak Esok Paginya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.