Kasus E-KTP, Gamawan: Kalau Dakwaan Itu Benar, Saya Tertipu Irman

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gamawan Fauzi. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Gamawan Fauzi. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.COJakarta - Mantan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi merasa ditipu bawahannya dalam skandal suap proyek kartu tanda penduduk elektronik atau e-KTP yang terungkap. "Ternyata ada pembicaraan di belakang yang tidak pernah dilaporkan ke saya," kata Gamawan kepada Tempo, Sabtu, 11 Maret 2017.

    Dua mantan bawahan Gamawan, mantan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Irman dan mantan ketua panitia lelang Sugiharto, menjadi terdakwa perkara korupsi proyek e-KTP senilai Rp 5,84 triliun yang merugikan negara Rp 2,3 triliun itu. 

    Baca: Gamawan Fauzi: Saya Tidak Terima Uang E-KTP Satu Sen Pun

    Dalam dakwaan kasus e-KTP yang dibacakan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis, 9 Maret 2017, bekas Sekretaris Jenderal Kementerian Diah Anggraini juga disebut banyak terlibat dalam perancangan proyek. 

    Dalam dakwaan disebutkan Gamawan tiga kali menerima uang. Pertama, melalui Afdal Noverman, adik seayahnya, sebesar US$ 2 juta atau sekitar Rp 19,4 miliar pada Maret 2011 agar Gamawan tidak membatalkan proyek e-KTP

    Selanjutnya, pada Juni 2011, melalui Azmin Aulia, adiknya yang lain, Gamawan disebut menerima US$ 2,5 juta atau sekitar Rp 24,2 miliar. Tujuannya agar Gamawan menetapkan konsorsium Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) sebagai pemenang lelang. Ini merupakan keterangan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin. Gamawan juga dituduh menerima uang dari Irman Rp 50 juta di lima daerah dan Rp 500 juta untuk pelaksanaan acara di Yogyakarta.

    Baca: Usut Kasus E-KTP Selama 3 Tahun, KPK Yakin Bisa Buktikan Dakwaan

    Gamawan menyatakan menunjuk Irman sebagai direktur jenderal atas rekomendasi Diah. Irman dianggap telah paham proyek e-KTP ketika Gamawan menjadi menteri pada Oktober 2009. 

    Irman, kata dia, selalu mewakilinya dalam rapat anggaran di Komisi Pemerintahan Dewan Perwakilan Rakyat. Ia mengklaim tak pernah bertemu dengan Ketua Fraksi Golkar Setya Novanto, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, Nazaruddin, dan pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong guna membahas proyek e-KTP. Mantan Gubernur Sumatera Barat itu mengaku berhati-hati dalam melaksanakan proyek e-KTP. 

    Menurut dakwaan, pemenang telah diatur oleh para politikus, bawahan Gamawan, dan para pengusaha. "Kalau dakwaan itu benar, saya tertipu Irman," katanya. Ia menyatakan menerima Rp 50 juta sebagai honor resmi sosialisasi e-KTP di lima daerah.

    HUSSEIN ABRI DONGORAN | MITRA TARIGAN | BUDI SETYARSO

    Video Terkait:
    Setya Novanto: Saya Tidak Terima Dana Itu
    Brebes Kekurangan 150.000 Blangko KTP Elektronik
    E-KTP: Satu Proyek, Berjibun Masalah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tahun-Tahun Indonesia Juara Umum SEA Games

    Indonesia menjadi juara umum pada keikutsertaannya yang pertama di SEA Games 1977 di Malaysia. Belakangan, perolehan medali Indonesia merosot.