Polisi Bentuk Tim Pemberantasan Terorisme Indonesia-Arab  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasukan TNI berada di atas kendaraan tempur jenis Anoa saat gelar pasukan pengamanan kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud di Nusa Dua, Bali, 3 Maret 2017. Sebanyak 2.500 personil gabungan TNI dan Polri yang terbagi menjadi tiga ring pengamanan disiagakan untuk mengamankan kunjungan liburan Raja Salman selama 6 hari di Bali sejak tanggal 4-9 Maret.  TEMPO/Johannes P. Christo

    Pasukan TNI berada di atas kendaraan tempur jenis Anoa saat gelar pasukan pengamanan kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud di Nusa Dua, Bali, 3 Maret 2017. Sebanyak 2.500 personil gabungan TNI dan Polri yang terbagi menjadi tiga ring pengamanan disiagakan untuk mengamankan kunjungan liburan Raja Salman selama 6 hari di Bali sejak tanggal 4-9 Maret. TEMPO/Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian akan membentuk tim untuk menindaklanjuti nota kesepahaman yang ditandatangani Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian bersama Kepala Kepolisian Arab Saudi Lieutenant General Othman bin Nasser Al-Mehrej, Rabu lalu. Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Martinus Sitompul mengatakan tim ini akan merinci kerja sama di antara kedua negara ini, khususnya di bidang terorisme. "Tim densus sesuai dengan tupoksinya di bidang terorisme, yang akan memimpin tim ini," katanya Jumat 3 Maret 2017.

    Dalam kunjungannya sejak 1 Maret 2017 lalu, Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud menandatangani sepuluh nota kesepahaman dalam berbagai bidang. Salah satu perjanjiannya meliputi kerja sama di bidang pemberantasan terorisme.

    Menurut Martin, dalam menangani terorisme, secara internal, kepolisian akan bekerja sama dengan lembaga terkait, seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Badan Intelijen Negara (BIN), dan Badan Intelijen Strategis, untuk mendalami kerja sama ini. Nota kesepahaman ini, kata Martin, akan mempermudah birokrasi penanganan terorisme.

    Baca: Dana Kredit Rp 13,3 T Raja Salman Tak Cair Dalam Waktu Dekat

    Indonesia biasanya harus berkoordinasi dengan The International Criminal Police Organization atau Interpol sebelum menindak pelaku kejahatan di Arab Saudi. Dengan kerja sama ini, polisi bisa mendapatkan akses langsung ke Arab. Kerja sama ini pun bisa menjadi ajang pertukaran informasi, pengembangan diri, dan berbagai pelatihan tentang kejahatan transnasional di antara kedua negara.

    Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irfan Idris, mengatakan lembaganya memang tidak ikut dalam penandatanganan nota kesepahaman. Namun BNPT sudah beberapa kali berkunjung ke Arab Saudi untuk mendalami terorisme. "Kunjungan terakhir kami ke General Intelligence Directorate (GID) Arab Saudi (sejenis BIN Arab Saudi), pada Januari 2017 lalu," katanya. "Kami juga bekerja sama meluruskan berbagai narasi dan informasi yang masih simpang-siur soal terorisme.”

    Pengamat terorisme Al-Chaidar sangat mendukung kerja sama kepolisian Indonesia dengan Arab Saudi. “Terorisme di Indonesia kebanyakan menggunakan paham Wahabi. Paham ini banyak disebarkan ulama di Arab Saudi,” kata Dewi.

    Baca: Lawatan Raja Salman, RI dan Arab Angkat Citra Islam Moderat

    Wahabi juga menjadi kelompok asal-usul jaringan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) serta Al-Qaidah. Dengan kemudahan akses informasi melalui perjanjian kerja sama itu, pendalaman tentang paham itu bisa digunakan untuk program deradikalisasi di Indonesia.

    Arab Saudi juga beberapa kali menjadi tempat transit teroris asal Indonesia yang hendak ke Suriah. Dengan perjanjian itu, diharapkan pemerintah bisa dengan mudah mendeteksi dan mencegah mereka.

    MITRA TARIGAN        


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?