Agus di Urutan Buncit Hasil Hitung Cepat, Jusuf Kalla: Dia Masih Muda  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta istri saat mencoblos di TPS 03 Kelurahan Pulo, Jakarta Selatan, 15 Februari 2017. INGE KLARA/TEMPO

    Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta istri saat mencoblos di TPS 03 Kelurahan Pulo, Jakarta Selatan, 15 Februari 2017. INGE KLARA/TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta - Hasil hitung cepat atau quick count pemilihan kepala daerah DKI Jakarta sejumlah lembaga survei menunjukkan Agus-Sylvi berada di posisi buncit. Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan Agus masih punya kesempatan pada masa mendatang.

    "Ya, masih mudalah, masih ada kesempatan lagi nanti," ucap Kalla, Rabu, 15 Februari 2017, saat memantau hasil quick count pilkada 2017 di rumah dinasnya, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta.

    Baca juga: Pidato Prabowo Usai Coblosan: Anies-Sandi Pasangan Pahe

    Kalla mengatakan, ibarat di tentara, elektabilitas pilkada DKI masih berdasarkan senioritas. Di antara para pasangan calon, Agus kalah senior dibanding Anies Baswedan atau Basuki Tjahaja Purnama. "Seperti tentara, berdasarkan senioritas," ujar Kalla.

    Sejumlah lembaga survei telah merilis hasil hitung cepat pilkada DKI. Hasilnya, Ahok dan Anies bersaing ketat dengan perolehan suara sekitar 40 persen. Sedangkan Agus berada di posisi ketiga dengan sekitar 20 persen suara.

    Baca pula: Ahok-Djarot Unggul Tipis di TPS Rumah Megawati

    Selain di DKI, pilkada serentak berlangsung di seratus daerah lain di Indonesia. Kalla mengapresiasi jalannya pemilihan yang berlangsung damai. "Dari seluruh Indonesia, tidak ada laporan kekerasan. Kita luar biasa," tutur Kalla.

    Saat memantau hasil hitung cepat, Kalla ditemani guru besar Universitas Islam Negeri Jakarta, Komaruddin Hidayat, Ketua Tim Ahli Wakil Presiden Sofjan Wanandi, Kepala Sekretariat Wakil Presiden Mohammad Omar, dan Staf Ahli Wakil Presiden Syahrul Udjud.

    AMIRULLAH SUHADA

    Simak: DKPP Evaluasi Pilkada Serentak 2017, Jimly: Ada Kesalahan...


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.