Beda SBY di Pilpres dengan Agus Yudhoyono di Pilkada DKI

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono menyapa kader pada acara Rapimnas di JCC, Jakarta, 7 Februari 2017. Dalam pembukaan Rapimnas SBY menyampaikan pidato politik dengan tema Indonesia untuk Semua. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Ketum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono menyapa kader pada acara Rapimnas di JCC, Jakarta, 7 Februari 2017. Dalam pembukaan Rapimnas SBY menyampaikan pidato politik dengan tema Indonesia untuk Semua. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta -  Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengaku teringat dengan masa lalunya, saat pertama kali mengikuti pemilihan umum sebagai calon presiden pada 2004. "Saya sedikit ingin bernostalgia. 13 tahun lalu, tahun 2004, beberapa hari sebelum pemungutan suara pemilihan presiden, waktu itu di Cikeas suasananya persis malam hari ini," kata Yudhoyono dalam istighosah "Satu Doa untuk Jakarta", di GOR Senam DKI, Jakarta Timur, Rabu malam, 8 Februari 2017.

    SBY mengakui perjuangannya kala itu sangat berat. Ia menyandingkan upayanya itu dengan yang dilakukan anaknya saat ini, Agus Harimurti Yudhoyono, yang mengikuti pemilihan kepala daerah DKI 2017 bersama Sylviana Murni.

    "Kalau Agus dan Mpok Sylvi bergerilya di pojok kota Jakarta siang-malam tak kenal lelah karena harus bertemu rakyat, mendengarkan aspirasi, harapan dan keluhan-keluhannya, saya juga bergerilya di seluruh Indonesia," kata SBY.

    Baca juga:
    Masa Tenang Pilkada, Kampanye Lewat Medsos Dilarang
    Rais Aam PBNU Instruksikan Nahdliyin Tak Ikut Demo 112

    Menurut dia, perjuangannya itu juga semakin berat lantaran harus menghadapi serangan fitnah, kampanye hitam, dan pembunuhan karakter. Kondisi tersebut, dia menuturkan sama persis dengan yang terjadi saat ini. Tapi, SBY melanjutkan, dirinya berikhtiar dan berserah diri pada Tuhan. Hasilnya, ia terpilih dan memimpin Indonesia sejak 2004 hingga 2014.

    SBY mengungkapkan, saat dirinya terpilih dan menang dua kali dalam pemilu, ia tidak menggelar pesta pora. "Kami kembali doa dan dzikir bersama majelis dzikir Nurul Salam dan juga dihadiri para ulama dan habib," ujarnya.

    Ia juga mengaku bersyukur setelah 10 tahun memimpin Indonesia, dirinya bisa mengakhiri tugas dengan baik. Keberhasilan itu, kata dia, turut didukung oleh doa, nasihat dan kebersamaan dari para ulama dan habib.

    Baca juga:
    Di Acara Istigasah SBY Bicara Islam Phobia
    Bertanya Jenis Ikan di Ambon, Jokowi Bingung Sendiri

    Terakhir, sebagai orangtua, SBY memberikan saran kepada Agus dan Sylvi untuk menjaga, memelihara kedekatan dan kebersamaan dengan para ulama. "Lihat, ketika berjuang, ulama saudara-saudara kita ikut memberikan doa restu, memohon pada Allah agar perjuangan dimenangkan," tutur SBY.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.