Kucurkan Rp 21 Miliar, Kukar Kirim Guru ke Cambridge  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (ki-ka) Fauzi Sulaiman, Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Indonesia di UK, Peter Philips CEO Cambridge University Press, Rita Widyasari, Bupati Kukardan Deputi Dubes Indonesia di UK saat penandatanganan MoU antara Pemerintah Kutai Kartanegara dan Cambridge University. Istimewa

    (ki-ka) Fauzi Sulaiman, Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Indonesia di UK, Peter Philips CEO Cambridge University Press, Rita Widyasari, Bupati Kukardan Deputi Dubes Indonesia di UK saat penandatanganan MoU antara Pemerintah Kutai Kartanegara dan Cambridge University. Istimewa

    TEMPO.COBalikpapan - Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, mengirim 24 guru bahasa Inggris ke Cambridge University, Inggris, pada April mendatang. Para guru jenjang pendidikan SMP-SMA ini akan mendalami teknik belajar mengajar bahasa Inggris ke pusatnya langsung di Bell School Cambridge University selama 1,5 bulan. "Guru-guru ini merupakan hasil seleksi program serupa yang sudah dilaksanakan tahun 2015," kata Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, Rabu, 1 Februari 2017.

    Kabupaten Kutai Kartanegara sudah mengirim 40 guru guna mendalami teknik belajar mengajar bahasa Inggris di Bell School Cambridge University pada 2016. Mereka kemudian menyeleksi 24 guru di antaranya guna mengikuti proses pendalaman kembali di Bell School Cambridge University pada April nanti. "Agar mereka mempunyai pendalaman bahasa Inggris yang makin baik," kata Rita.

    Baca juga: 
    Ini Beberapa Kiat Lolos Beasiswa LPDP Kementerian Keuangan
    Peserta Antusias Mengikuti Beasiswa LPDP EduFair 2017

    Guru-guru ini, menurut Rita, nantinya akan diminta menjadi mentor teknik belajar mengajar bahasa Inggris di sekolah-sekolah di Kutai Kartanegara. Mereka bisa merumuskan kurikulum teknik belajar bahasa Inggris yang paling gampang dipahami para siswa pelajar Kutai Kartanegara. 

    Rita berharap Kabupaten Kutai Kartanegara makin melek pemahaman bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Dia ingin mengadopsi perkampungan bahasa Inggris di Pare, Kediri, bisa juga direalisasikan di Pulau Komala, Tenggarong. 

    "Bila semua sudah berjalan lancar, diharapkan ada kelas-kelas kecil belajar bahasa Inggris di Pulau Komala. Bisa membantu sumber daya manusia dan potensi pariwisata Kutai Kartanegara," ujar Rita.
     
    Sehubungan dengan itu, Rita tidak segan mengalokasikan anggaran sebesar Rp 21 miliar guna pelatihan para guru ke Inggris. Dia yakin alokasi anggaran investasi jangka panjang ini demi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Kutai Kartanegara. "Saya yakin karena hasilnya sangat jelas di masa mendatang," katanya.

    Salah seorang guru lolos seleksi, Indra Gunawan, membeberkan mereka belajar secara mendalam bahasa Inggris ke pakarnya di Cambridge. Teknik pengajarannya sangat menyenangkan, di mana terjadi interaksi antara mentor dan siswanya. 

    “Tidak melulu di ruangan terus-menerus, terkadang juga keluar kelas hingga memasak kue. Semua berjalan sangat menyenangkan dalam belajar bahasa Inggris,” katanya. 

    Proses belajar mengajar ini, menurut Indra, nantinya yang hendak diterapkan kepada siswa-siswanya di Kutai Kartanegara. Dia merupakan salah seorang tenaga honor guru bahasa Inggris di SMA Kutai Kartanegara. "Kebetulan dipilih kembali untuk memperdalam ilmu bahasa Inggris ke Cambridge,” ujarnya. 

    Direktur Cultural Exchange and International Education Foundation (CEIEF) Kalimantan Timur Parawansa Assoniwora mengatakan program kerja sama peningkatan SDM pertama kali dilakukan antara Bell School Cambridge University dan Pemkab Kutai Kartanegara. Menurut dia, program-program seperti ini nantinya menjadi unggulan guna mendongkrak SDM daerah. 

    “Baru pertama kalinya dilakukan kerja sama dengan Pemkab Kutai Kartanegara,” kata Parawansa. 

    SG WIBISONO

    Simak: 
    BREAKING NEWS SBY: Telepon Disadap seperti Skandal Watergate
    Respons Sikap Ahok ke Mar`uf Amin, GP Ansor: Serukan Siaga


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.