Menteri Nasir: Tidak Ada Budaya Kekerasan dalam Pendidikan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menristikdikti Mohamad Nasir (kanan) melihat sejumlah piagam penghargaan Syaid Asyam saat mengunjungi rumah almarhum di Jetis, Caturharjo, Sleman, Yogyakarta, 26 Januari 2017. TEMPO/Pius Erlangga

    Menristikdikti Mohamad Nasir (kanan) melihat sejumlah piagam penghargaan Syaid Asyam saat mengunjungi rumah almarhum di Jetis, Caturharjo, Sleman, Yogyakarta, 26 Januari 2017. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti)  Mohammad Nasir mewanti-wanti supaya tidak ada tindak kekerasan di dalam pendidikan. Pada Agustus mendatang akan ada penerimaan mahasiswa baru, tidak dibolehkan adanya kekerasan  saat pengenalan kampus. 

    "Tidak ada kekerasan mahasiswa dalam kampus," kata Mohammad Nasir setelah membuka rapat kerja nasional Riset Tenknokogi Perguruan Tinggi di Universitas Gadjah Mada, Senin, 30 Januari 2017.

    Jika ada tindak kekerasan di dalam kampus, Nasir menegaskan akan memberikan sanksi. Yaitu sanksi kepada pelaku, sanksi kepada lembaga institusi perguruan tinggi. 

    Ia menegaskan lagi, tidak ada budaya tindak kekerasan di dalam dunia pendidikan. Mahasiswa yang terbukti melakukan tindak kekerasan kepada yuniornya akan diberi sanksi tegas berupa skorsing,  tidak boleh kuliah. Lamanya skorsing bervariasi mulai dengan satu sementer hingga satu tahun.

    Nasir juga menyatakan, kegiatan kemahasiswaan yang ada tindak kekerasan akan dihentikan. Jika ada unsur pidana, tidak hanya sanksi dari kampus tetapi diserahkan kepada aparat kepolisian.

    Jika masih ada tindak kekerasan dalam kampus, maka pihak perguruan tinggi atau universitas akan diberi surat teguran. Tidak hanya kampus negeri tetapi juga kampus milik swasta.

    Sikap itu ditegaskan Nasir terkait kasus yang menimpa para peserta The Great Camping Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala)  Unisi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Dalam pelatihan dasar mapala itu, tiga mahasiswa meninggal dunia karena tindak kekerasan oleh panitia penyelenggara yang merupakan para senior di mapala Unisi.

    Latihan dasar ke-malala-an yang dilaksanakan di lereng Gunung Lawu Karanganyar Jawa Tengah, 13-20 Januari 2017 itu juga mengakibatkan semua peserta luka-luka. Sepuluh mahasiswa juga harus rawat inap di rumah sakit. 

    Rektor Universitas Islam Indonesia Harsoyo dan Wakil Rektor Tiga Bidang Kemahasiswaan Abdul Jamil mengundurkan diri dari jabatan. Pengunduran diri dari jabatan itu karena pertanggungjawaban moral atas kejadian yang menimpa para mahasiswa itu. 

    MUH SYAIFULLAH 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.