Banyak Kecelakaan Udara, Panglima Minta Alutsista Dievaluasi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (kiri) menyerahkan pataka kepada Pejabat baru KASAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kanan) didampingi Marsekal TNI Agus Supriatna, dalam upacara serah terima jabatan, di Lapangan Udara Militer TNI AU, Halim Perdanakusuma, Jakarta, 20 Januari 2017. TEMPO/Imam Sukamto

    Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (kiri) menyerahkan pataka kepada Pejabat baru KASAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kanan) didampingi Marsekal TNI Agus Supriatna, dalam upacara serah terima jabatan, di Lapangan Udara Militer TNI AU, Halim Perdanakusuma, Jakarta, 20 Januari 2017. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta -Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo meminta TNI Angkatan Udara membenahi alat utama sistem pertahanan (alutsista) mereka. Musababnya, menurut Gatot, sejumlah pesawat militer mengalami kecelakaan udara pada 2016. "Harus evaluasi diri secara jujur, terutama soal pembangunan kekuatan alutsista," ujarnya di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jumat 20 Januari 2017.

    Pernyataan itu dilontarkan Gatot saat memimpin upacara militer serah-terima jabatan Kepala Staf TNI Angkatan Udara yang baru, kemarin. Kepala Staf TNI AU sebelumnya, Marsekal Agus Supriatna, dicopot oleh Presiden Joko Widodo karena akan masuk masa pensiun. Posisi Agus selanjutnya dijabat oleh Marsekal Hadi Tjahjanto.

    Adapun pesawat militer jatuh yang dimaksudkan Gatot adalah pesawat Super Tucano 3180 milik TNI AU yang jatuh di Malang, Jawa Timur, pada Februari 2016. Empat orang tewas dalam peristiwa itu. Satu bulan kemudian, helikopter Bell 412 EP TNI Angkatan Darat juga jatuh di Poso, Sulawesi Tengah, yang mengakibatkan 14 orang tewas.

    Baca juga:
    Video Bendera Tulisan Arab, FPl: Kami Curiga Fitnah 
    Soal Negara tanpa Utang, Sri Mulyani Sebut Kanjeng Dimas

    Kemudian, pada 8 Juli 2016, helikopter Bell 205 A-1 milik TNI AD jatuh di Sleman, Yogyakarta. Tiga orang tewas dalam kejadian tersebut. Dan terakhir, jatuhnya pesawat Hercules C-130 Nomor A-1334 kepunyaan TNI AU di Gunung Tugima, Wamena, Papua, pada Desember 2016 lalu. Kejadian itu mengakibatkan 12 awak dan satu penumpang tewas.

    Banyaknya kasus itu, ujar Gatot, seharusnya mendorong keseriusan TNI dalam evaluasi, pembinaan, dan pembenahan alutsista. Menurut dia, langkah awalnya adalah memperbaiki perencanaan, pengadaan, penggunaan, dan pemeliharaan semua alat tempur, termasuk pesawat udara.

    Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan TNI AU sudah menyiapkan berbagai hal untuk evaluasi maupun pembenahan alutsista. “Targetnya nihil kecelakaan. Kami akan lakukan yang terbaik,” ujarnya.

    Hadi menuturkan akan melakukan perbaikan dalam pengadaan barang berupa peningkatan transparansi pengadaan. Dengan begitu, pengadaan alutsista terawasi dengan baik sehingga barang yang diterima bisa lebih dipastikan sesuai dengan yang telah direncanakan.

    Simak juga:
    Jaksa Agung: Kasus Mobil Listrik Dahlan Jalan Terus
    La Nyalla Angkat Bicara Soal Kadin Jawa Timur Tandingan

    Ia juga akan melakukan evaluasi pemeriksaan serta pemeliharaan armada TNI AU yang diterbangkan, baik dalam kondisi tua maupun muda. Para teknisi dilarang keras melakukan spekulasi kondisi pesawat. “Kalau siap, bilang siap. Kalau tidak, jangan bilang siap,” ucapnya.

    Untuk memperkuat alutsista, ucap Hadi, ia akan melanjutkan Rencana Strategis (Renstra) TNI AU 2015-2019 yang sudah disetujui Mabes TNI. Misalnya, penggantian pesawat tempur F-5 dengan pesawat tempur Sukhoi Su-35 Super Flanker buatan Rusia atau F-16 buatan Lockheed Martin asal Amerika Serikat. Juga ada program penambahan radar udara sebanyak 12 unit. Saat ini, TNI AU memiliki 20 radar pertahanan udara.

    Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie mengatakan TNI AU juga harus berani melawan tekanan jika ada suatu pihak yang memaksakan penggunaan suatu alutsista. “Karena, selama ini yang terjadi, pengadaan tidak sesuai dengan penggunaan maupun kebutuhan setiap matra,” ujarnya.

    YOHANES PASKALIS | ISTMAN MP | HUSEIN ABRI

     

     

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.