INVESTIGASI: Mendulang Duit dari Mahasiswa Kedokteran

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tempat pendaftaran mahasiswa baru di Universitas Abulyatama, Banda Aceh. Tempo/Imran

    Tempat pendaftaran mahasiswa baru di Universitas Abulyatama, Banda Aceh. Tempo/Imran

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Konsil Kedokteran Indonesia Bambang Supriyatno mengakui kondisi pendidikan kedokteran di negeri ini masih jauh dari sempurna. Menurut dia, banyak kampus masih perlu berbenah terkait dengan pendidikan kedokteran. Salah satunya, terkait dengan pemenuhan standar rasio 1:10. "Artinya, satu dosen untuk 10 calon dokter," kata Bambang kepada Tempo awal November lalu.

    Mengacu pada Pangkalan Data Pendidikan Tinggi, banyak kampus masih belum memenuhi standar rasio 1:10. Menurut Bambang, salah satu penyebabnya adalah kampus cenderung menerima mahasiswa kedokteran baru dalam jumlah banyak.

    Salah satunya adalah Universitas Abulyatama, Banda Aceh. Tempo mendapatkan salinan laporan kunjungan tim evaluasi Kementerian Pendidikan Tinggi pada 24 Agustus 2015. Laporan tersebut salah satunya menyoroti banyaknya calon dokter baru yang diterima kampus tersebut. Pada 2014, misalnya, ada 127 mahasiswa kedokteran anyar. Setahun sebelumnya, tercatat 199 mahasiswa calon dokter baru.

    Menurut seorang anggota tim evaluasi, Abulyatama seharusnya hanya boleh menerima 50 mahasiswa. Ini sesuai dengan akreditasi C yang disandang Abulyatama untuk pendidikan kedokteran.

    "Untuk akreditasi C, maksimal menerima 100 mahasiswa baru. Itu pun tergantung tingkat kelulusan uji kompetensi calon dokternya. Kalau tingkat kelulusannya 90-100 persen, boleh menerima 100 mahasiswa baru," ujarnya.

    Rektor Universitas Abulyatama, R. Agung Efriyo Hadi, enggan berkomentar banyak soal temuan tim Kementerian Pendidikan Tinggi. “Ya pada prinsipnya, mereka membimbing kami untuk ke arah yang lebih baik. Sudah ya, saya buru-buru mau ke bandara,” ujarnya pada Jumat terakhir, November.

    Berikutnya, Kampus Mendulang Duit Besar


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.