INVESTIGASI: Mendulang Duit dari Mahasiswa Kedokteran

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tempat pendaftaran mahasiswa baru di Universitas Abulyatama, Banda Aceh. Tempo/Imran

    Tempat pendaftaran mahasiswa baru di Universitas Abulyatama, Banda Aceh. Tempo/Imran


    Tak hanya Abulyatama, sejumlah kampus juga melakukan hal serupa. Pendidikan kedokteran di Universitas Cenderawasih (Uncen), Papua, pernah menerima lebih dari 350 mahasiswa baru para 2012. Padahal akreditasinya masih C. “Tahun ini kami hanya menerima 50 mahasiswa,” ujar Dekan Fakultas Kedokteran Tranyanus Yembise.

    Mantan Direktur Kelembagaan Kementerian Pendidikan, Hermawan Kresno Dipojono, mengaku pernah menegur Universitas Malahayati karena menerima lebih dari 200 mahasiwa baru. “Padahal mereka maksimal hanya boleh menerima 50 mahasiswa baru,” ujar Hermawan yang menjadi Direktur Kelembagaan pada 2014-2015.

    Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Toni Prasetia dan Ketua Program Studi Kedokteran Dalfian Adnan melalui pernyataan tertulis menyatakan pembatasan kuota berdasarkan hasil uji kompetensi calon dokter itu sudah ditolak oleh semua fakultas kedokteran swasta se-Indonesia. “Karena dianggap menghambat tumbuh kembang fakultas kedokteran swasta.”

    Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia Ilham Oetama Marsis menilai kampus yang menerima mahasiswa melebihi ketentuan kemungkinan besar hanya mengedepankan keuntungan ketimbang pendidikan untuk calon dokter. "Dengan biaya masuk bisa lebih dari Rp 200 juta, kampus bisa mendapat banyak duit. Hitung saja berapa bisa didapat kalau jumlah mahasiswanya lebih dari 100 orang," kata Marsis.

    Baca selengkapnya investigasi Majalah Tempo edisi pekan ini.

    TIM INVESTIGASI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.