Selasa, 17 September 2019

Pengikut Dimas Kanjeng Kerap Semedi di Makam Keramat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dimas Kanjeng Taat Pribadi. youtube.com

    Dimas Kanjeng Taat Pribadi. youtube.com

    TEMPO.CO, Sumenep - Ismail Hidayat, salah satu orang kepercayaan Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang kemudian tewas dibunuh, ternyata sering bersemedi di makam-makam keramat di Sumenep, Madura, saat masih hidup. Keterangan ini disampaikan saudara sepupunya, Busairi.

    Menurut Busairi, jika sedang pulang ke Madura, Ismail tidak hanya sekadar bersilaturahmi ke tempat saudara-saudaranya. Namun, sepupunya itu juga bersemedi di makam keramat seperti makam raja-raja Asta Tinggi, Asta Sayyid Yusuf, di Pulau Talango, dan Bujuk Batu Ampar di Kabupaten Pamekasan.

    Saat Ismail menghilang, orang tuanya dan istrinya sempat ke Sumenep, Madura. Mereka mencari Ismail yang tidak pulang selama lima hari ke tempat dia biasa bersemedi. Namun, hasilnya nihil. "Belakangan kami dapat kabar Ismail ditemukan tewas," ujar Busairi, Jumat, 7 Oktober 2016.

    Baca juga:
    Survei:  Ahok Disokong Segmen Mapan, Anies & Agus?
    Di Padepokan Gatot Brajamusti Sering Bikin Pesta Seks Bebas

    Ismail yang dinyatakan hilang sejak 5 Februari 2016 ditemukan tewas terbunuh di Desa Tegalsono, Kecamatan Tegalsiwalan, Probolinggo. Ismail diduga dibunuh anak buah Dimas Kanjeng lainnya atas perintah Taat Pribadi.

    Ismail dan tiga saudaranya, Siyono, Suwarso, dan Suwarsi, semasa kecil tinggal di Sumenep, Madura. Mereka menghabiskan masa kecilnya di Desa Aengdake, Kecamatan Bluto. Setelah Ismail lulus Madrasah Tsanawiyah, orang tuanya Musyaffak dan Nabiyah memboyong anak-anaknya pindah ke Probolinggo. Sejak itu, menurut Busairi, saudara di Madura tidak tahu persis aktivitas Ismail.

    Namun, lanjut Busairi, Ismail pernah mengajak dia dan anggota keluarga yang lain bergabung ke Padepokan Dimas Kanjeng di Probolinggo, Jawa Timur. Menurut Busairi, ada yang bergabung, ada pula yang menolak. Dia tak tahu pasti berapa jumlah anggota keluarganya yang akhirnya bergabung.

    Para calon santri harus menyetor mahar Rp 1,5 juta. Nantinya, kata Busairi, duit itu akan berlipat ganda secara gaib. Berdasarkan informasi yang dia terima, Ismail menerima uang setoran hingga Rp 400 juta.

    Untuk meyakinkan calon santri, lanjut Busairi, Ismail mengaku sebagai orang kepercayaan Dimas Kanjeng untuk merekrut pengikut di wilayah timur meliputi Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, Bali, hingga Lombok. "Bahkan katanya mau diangkat jadi Sultan," ujarnya, Jumat, 7 Oktober.

    MUSTHOFA BISRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Google Doodle, Memperingati Chrisye Pelantun Lilin-Lilin Kecil

    Jika Anda sempat membuka mesin pencari Google pada 16 September 2019, di halaman utama muncul gambar seorang pria memetik gitar. Pria itu Chrisye.