Ini Alasan Jusuf Kalla Tolak Gagasan Sekolah Parlemen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi Wakil Presiden Jusuf Kalla saat mengikuti rapat terbatas di Kantor Presiden, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, 25 April 2016. Dari lawatan ke empat negara Eropa, total investasi yang bisa diboyong ke Indonesia mencapai US$ 20,5 miliar atau setara Rp 266,5 triliun. TEMPO/Subekti.

    Ekspresi Wakil Presiden Jusuf Kalla saat mengikuti rapat terbatas di Kantor Presiden, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, 25 April 2016. Dari lawatan ke empat negara Eropa, total investasi yang bisa diboyong ke Indonesia mencapai US$ 20,5 miliar atau setara Rp 266,5 triliun. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.COJakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla menolak ide sekolah parlemen yang dicetuskan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Ade Komarudin. Kalla mengatakan pelatihan kader telah dilakukan tiap partai. "Masing-masing partai membuat pelatihan kader," katanya di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin, 29 Agustus 2016.

    Menurut Kalla, sebelum menjadi anggota legislatif, anggota partai seharusnya sudah memahami tugas dan fungsi anggota DPR. Untuk itu, 560 anggota DPR seharusnya sudah memahami tugas dan fungsi mereka saat sudah duduk di DPR. "Sebelum dipilih, kan, mereka harus mampu bicara soal DPR. Diadakan penataran oleh masing-masing partai," ucapnya.

    Baca: Gatot Brajamusti Ditangkap, di Tempat Ini Narkoba Disimpan

    Sebelumnya, Ade Komarudin alias Akom mengutarakan gagasannya agar DPR membangun sekolah parlemen. Menurut dia, sekolah parlemen dibutuhkan karena selama ini banyak keluhan dari masyarakat mengenai kualitas orang-orang yang lolos menjadi anggota Dewan.

    Akom mengatakan semua anggota Dewan diharuskan mengetahui fungsi legislasi, pengawasan, dan anggaran. Dengan sekolah parlemen, anggota Dewan akan diajarkan cara membahas dan merancang undang-undang. "Cara mengerjakannya hingga membahas dan merancang undang-undang," kata Akom, Jumat pekan lalu.

    Baca Juga: Di Medsos Ada Polwan Dicium Polisi, Kapolri Bereaksi

    Politikus Partai Golkar ini meyakini, dengan adanya sekolah parlemen, kualitas anggota Dewan bisa ditingkatkan. "Bila dari awal nilainya enam, begitu dididik bisa delapan, bahkan sembilan. Jadi dia siap tempur," katanya. Meski Akom mengakui banyak anggota DPR yang kompeten, ia berpendapat anggota Dewan tetap membutuhkan pendidikan agar mengerti fungsi dan tugasnya sebagai legislator.

    AMIRULLAH | AHMAD FAIZ

    Baca Juga: Cerita Ahok Soal Jokowi dan Lahan 2 Hektare di Kemang
                     
    Barang Aa Gatot Disita, dari Vibrator hingga Pistol


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.