Ribuan Muda-mudi Bali Demo Tolak Reklamasi Teluk Benoa  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Massa aksi tolak reklamasi Teluk Benoa melakukan longmarch di Desa Adat Tegal Darmasaba, Kabupaten Badung, 14 Agustus 2016.TEMPO/Bram Setiawan

    Massa aksi tolak reklamasi Teluk Benoa melakukan longmarch di Desa Adat Tegal Darmasaba, Kabupaten Badung, 14 Agustus 2016.TEMPO/Bram Setiawan

    TEMPO.CO, Badung - Ribuan muda-mudi turun ke jalan menggelar aksi menolak reklamasi Teluk Benoa. Aksi kali ini sekaligus deklarasi dua komunitas dan enam Sekaa Truna Truni (STT) di Desa Adat Tegal dan Desa Darmasaba, Kabupaten Badung.

    Massa memulai long march dari Pura Dalem Desa Adat Tegal Darmasaba menuju jalan raya untuk melakukan orasi. Aksi deklarasi semakin ramai karena dihadiri muda-mudi lainnya dari Denpasar, Gianyar, dan Karangasem.

    Koordinator Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI) I Wayan “Gendo” Suardana saat berorasi mengatakan aksi deklarasi ini menunjukkan bahwa gerakan Bali Tolak Reklamasi (BTR) penuh dinamika dan terus melatih diri.

    "Kita tidak akan pernah libur menolak reklamasi. Saat ini Presiden Jokowi sedang sangat serius mengkaji reklamasi, semoga kita akan dapat kabar baik dari beliau," katanya, Minggu, 14 Agustus 2016.

    Gendo mengingatkan, semakin besar gelombang perlawanan, tak lepas dari fitnah yang terus menghujani ForBALI. "Gerakan tolak reklamasi sedang diuji lewat media sosial. Tapi mereka tidak bisa melawan soliditas, konsolidasi, kekuatan, dan persatuan gerakan ini," ujarnya.

    Gendo menjelaskan bahwa pihak-pihak yang tidak mampu memecah gerakan rakyat menolak reklamasi tak jarang menyerang dirinya secara pribadi. "Mereka mencoba membunuh karakter. Saya dituding anti-demokrasi, rasis, bahkan termasuk mereka buat cerita konspirasi di Twitter," tuturnya.

    Gendo mengatakan gerakan ForBALI bersama seluruh rakyat Bali dari berbagai elemen menjadi gerakan semesta melindungi Ibu Pertiwi. Ia menambahkan, memasuki tahun keempat, perjuangan rakyat Bali menolak reklamasi semakin solid.

    "Gerakan ini selalu kena fitnah, itu sudah biasa. Kita ada di garis yang sama, mari kita saling filter informasi dengan baik," katanya. Gerakan ini tidak mengenal sekat, suku, atau agama. Ini gerakan damai, kita harus menempuh cara bermartabat untuk perjuangan yang ingin dicapai."

    BRAM SETIAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.