12 Institusi Kesehatan Ini Dukung Pengusutan Vaksin Palsu  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kesehatan, Nila Moeloek. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Menteri Kesehatan, Nila Moeloek. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Kementerian Kesehatan, Selasa, 19 Juli 2016, 12 institusi kesehatan menyampaikan rasa prihatin dan empati terhadap keluarga anak yang terdampak vaksin palsu.

    "Kami menyampaikan rasa keprihatinan yang mendalam atas kejadian tersebut dan menyampaikan empati kepada orang tua atau keluarga anak yang telah terindikasi terpapar vaksin palsu," kata Menteri Kesehatan Nila Moeloek, Selasa, 19 Juli 2016.

    Dua belas institusi itu antara lain Konsil Kedokteran Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia, Ikatan Bidan Indonesia, Persatuan Perawat Nasional Indonesia, Ikatan Apoteker Indonesia, Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia, Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia, Komisi Akreditasi Rumah Sakit, Badan Pengawas Obat dan Makanan, serta Kementerian Kesehatan.

    Pada kesempatan tersebut, dua belas institusi tersebut juga menyatakan komitmennya dalam mendukung pengusutan kasus vaksin palsu. "(Kami) berkomitmen sepenuhnya untuk mendukung upaya pemerintah dalam penanganan dan (pencarian) solusi terbaik atas kasus vaksin palsu," ujar Nila.

    Upaya penanganan yang dilakukan kedua belas institusi di antaranya melakukan pendataan dan verifikasi anak yang terpapar vaksin palsu, melakukan vaksinasi wajib ulang di fasilitas kesehatan yang telah ditunjuk dinas kesehatan setempat setelah berkoordinasi dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia, serta melakukan pemantauan terhadap tumbuh-kembang anak.

    Hingga kini, tutur Nila, setidaknya ada 76 anak di Ciracas dan 19 anak di Rumah Sakit Harapan Bunda yang diberi vaksin ulang.

    FAUZY DZULFIQAR



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.