Vaksin Palsu, Dokter di RSIA Mutiara Bunda Siap Dihukum  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rumah mewah milik tersangka pembuat vaksin palsu di Jalan Kumala 2, Perumahan Kemang Pratama Regency, Bekasi, 30 Juni 2016. Prarekonstruksi ini akan dilakukan Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Rumah mewah milik tersangka pembuat vaksin palsu di Jalan Kumala 2, Perumahan Kemang Pratama Regency, Bekasi, 30 Juni 2016. Prarekonstruksi ini akan dilakukan Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Ciledug -Sebanyak 30 anggota Kepolisian Resor Metropolitan Tangerang dan Kepolisian Sektor Ciledug menjaga Rumah Sakit Ibu Anak (RSIA) Mutiara Bunda di jalan H.Mencong Ciledug Kota Tangerang. Penjagaan dilakukan menghindari tindak anarkis orangtua pasien yang khawatir anaknya menjadi korban vaksin palsu.

    Kepala Polsek Ciledug Komisaris Ketut Sudarsono dihubungi Tempo Sabtu, 16 Juli 2016 mengatakan pihaknya menambah personil karena ada peningkatan keluarga pasien yang mendatangi rumah sakit tersebut sejak Jumat malam.

    "Penjagaan dengan 20 personil Polres dan 10 anggota sektor hingga hari Senin mendatang," kata Sudarsono

    Menurut Sudarsono pada pertemuam orangtua pasien dan Direktur RSIA Mutiara Bunda sekaligus satu-satunya dokter anak ( pediatric), dr.Toniman Koeswadjaja sempat terjadi kegaduhan.

    "Keluarga pasien menuntut pertanggung jawaban rumah sakit, dan disepakati serta dibuatlah pernyataan dokter yang bersedia dituntut sesuai undang-undang jika dia lalai menggunakan vaksin palsu,"kata Sudarsono sebagai saksi yang turut menandatangani surat pernyataan dr Toniman di atas materai 6000 itu.

    Dalam surat pernyataan yang salinannya diperoleh Tempo itu sang dokter menyatakan selama ini sejak membuka praktek tidak pernah menggunakan vaksin dan obat palsu.

    Namun jika kemudian terbukti menggunaan vaksin dan obat palsu,  Toniman siap dituntut paksa sesuai undang-undang yang berlaku. Dokter yang sudah berpraktik 10 tahun terakhir ini juga siap dituntut secara moril dan materiil jika terbukti lalai menggunakan vaksin palsu.

    Atas pernyataan Toniman, salah satu orangtua pasien, Jojo Rahardjo warga Ciledug mendukung kesepakatan yang ditandatangani di atas materai itu. Dia menyebut banyak orangtua yang datang ingin agar rumah sakit tidak begitu saja lepas tangan terkait vaksin palsu.

    "Saya sebagai orangtua yang pernah memvaksin imunisasi dua anak di RSIA Mutiara Bunda mendukung kesepakatan yang ditandatangani di atas materei itu.
    Pihak RS harus mempertanggungjawabkan sepenuhnya bila mereka lalai atau mengingkari pernyataan itu," kata Jojo dihubungi terpisah.

    Para orangtua yang datang dalam pantauan Tempo sejak Jumat pagi diminta mengisi nama dan usia serta pernah divaksin apa. Data itu, menurut Toniman diperlukan manakala panduan dari Kementrian Kesehatan turun apakah anak yang pernah menjalani vaksin di rumah sakitnya divaksin ulang atau tidak.

    Dokter Toniman mengatakan siap melakukan vaksin ulang jika sudah ada panduan. "Kalau sekarang saya tidak berani berbuat apa-apa, menunggu instruksi apakah vaksin ulang sekali lagi dengan dosis tinggi apa dua kali termasuk pada bagian mana yang disuntikan,"ujarnya.

    Menurutnya, isi vaksin yang disebut palsu tidak berbahaya karena berisi garam dan cairan infus. "Kalau disuntik itu (vaksin) ya seperti tidak divaksin saja, tapi kekebalan perisainya bolong. Untuk menambalnya dengan vaksin ulang," kata Toniman enteng. Dia menambahkan pada tubuh anak ada dua kekebalan satu kekebalan bawaan dan perisai setelah divaksin.

    Toniman  mengaku telah membelanjakan uangnya Rp 26 juta untuk membeli 130 vial vaksin Tripacea.Tercatat pada faktur transaksi pembelian dilakukan pada 23 Juni 2016. Saat ini vaksin sudah disita BPOM Banten.

    Kepada Tempo, Toniman mengatakan tidak tahu kalau vaksin DPT yang dibelinya palsu. "Saya tidak mengecek, kemasannya sama dengan yang dulu (pabrikan). Mungkin kalau dibuka isi carian baru ketahuan palsu," kata Toniman.

    Toniman mengatakan vaksin yang dibeli itu merupakan vaksin DPT tanpa efek panas, jenis vaksin ini memang diminati orangtua pasien sebab tidak menimbulkan suhu panas.  "Banyak permintaan vaksin DPT yang tidak panas orangtua menghindari anaknya panas bahkan kejang," katanya

    Maka begitu ada tawaran vaksin DPT dari seorang sales obat, Toniman langsung sepakat dan memesannya. Apalagi persediaan vaksin DPT kosong sejak awal 2016 hingga pertengahan tahun.
    AYU CIPTA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.