Menpan Yuddy: Presiden Setujui Pergantian 20 Pejabat Tinggi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Menteri pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi mengungkapkan Presiden Joko Widodo menyetujui pergantian pejabat tinggi tingkat eselon I dan jabatan strategis lain untuk 20-an posisi.

    "Keputusan akhir di Presiden dan sudah ditetapkan ada pergantian jabatan tinggi kurang lebih 20 posisi," kata Yuddy di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis, 14 Juli 2016.

    Ia tidak hafal rincian 20 jabatan tinggi itu. Ia mempersilakan media menanyakan hal tersebut ke Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

    Yuddy menjelaskan, rapat tim penilai akhir (TPA) untuk pejabat eselon I kementerian dan lembaga yang dipimpin Presiden Jokowi pada Kamis kemarin sudah diputuskan.

    Menurut dia, pejabat eselon I dimaksud berada di Kementerian Kesehatan, BPOM, sekretaris daerah provinsi, Kementerian Sosial, BNN, dan Kementerian ESDM.

    Ia menyebut penggantian pejabat itu sudah melalui proses panjang yang dilaksanakan panitia seleksi.

    "Memang pemutus akhir itu kan Presiden sebagai pemegang kekuasaan tertinggi aparatur negara," ucapnya.

    Ia menjelaskan, TPA diketuai oleh Presiden Jokowi dengan Wakil Ketua Wapres Jusuf Kalla, Sekretaris Seskab Pramono Anung, dan anggotanya Mensesneg Pratikno dan Menpan. TPA memperoleh dukungan data dari BIN dan BKN.

    "Jadi rapat TPA yang membahas jabatan pimpinan itu saja tujuh orang," ujarnya.

    Sementara itu, soal kemungkinan perombakan kabinet, Yuddy mengatakan hanya Presiden yang tahu.

    "Saya enggak tau, hanya Tuhan dan Presiden yang tahu," tutur Yuddy.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.