Balai POM Pekanbaru Temukan Dua Vaksin yang Diduga Palsu  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Badan Reserse Kriminal Polri Brigadir Jenderal Polisi Agung Setya (kiri) dan KepalaBiro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Agus Rianto menjelaskan tentang penangkapan tersangka pembuat dan penyalur vaksin palsu di Mabes Polri, Jakarta, 23 Juni 2016. Tempo/Rezki Alvionitasari.

    Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Badan Reserse Kriminal Polri Brigadir Jenderal Polisi Agung Setya (kiri) dan KepalaBiro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Agus Rianto menjelaskan tentang penangkapan tersangka pembuat dan penyalur vaksin palsu di Mabes Polri, Jakarta, 23 Juni 2016. Tempo/Rezki Alvionitasari.

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan Pekanbaru menemukan dua jenis vaksin yang diduga palsu dari apotek dan klinik di Pekanbaru. "Masih terindikasi palsu, kami perlu uji sampel lagi," kata Kepala BBPOM Pekanbaru Indra Ginting, kepada Tempo, Senin, 27 Juni 2016.

    Dua jenis vaksin yang diduga palsu itu terdiri atas sepuluh ampul vaksin anti-tetanus serum (ATS) dan sepuluh ampul vaksin anti-bisa ular (ABS). Namun sejauh ini, BBPOM belum menemukan adanya vaksin palsu untuk bayi di klinik maupun rumah sakit pemerintah, menyusul ditangkapnya produsen dan pengedar vaksin palsu di Jakarta. BACA: Pembuat Vaksin Palsu Punya Rumah Rp 6 Miliar

    Dua jenis vaksin palsu ditemukan petugas saat inspeksi mendadak di 41 klinik dan apotek swasta di Pekanbaru. Petugas mencurigai keaslian vaksin itu lantaran tidak jelas jalur pendistribusiannya masuk ke Pekanbaru.

    BACA: Vaksin Palsu, Dibuat Sejak 2003 Menggunakan Vaksin Tetanus

    "Sumber perolehannya tidak jelas." Meski demikian, untuk memastikan keasliannya petugas mesti menguji sampel di laboratorium Balai POM Jakarta. Butuh waktu satu pekan untuk dapat memastikan hasil vaksin itu palsu atau tidak. "Hasil laboratorium ke luar sepekan kemudian."

    Selanjutnya, BBPOM Pekanbaru bakal berkoordinasi bersama Dinas Kesehatan Riau untuk menindaklanjuti temuan vaksin palsu itu.

    Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Andra Sjafril mengakui adanya informasi peredaran vaksin palsu di Pekanbaru. "Kami akan koordinasikan dulu," kata Kepala Dinas Kesehatan Riau Andra Sjafril.

    Andra mengimbau kepada masyarakat tidak perlu khawatir dengan informasi temuan vaksin palsu itu. Dia menjamin vaksin yang disalurkan melalui program pemerintah terjamin keaslian dan keamanannya bagi masyarakat.

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.