Hukuman Kebiri Kimia, Begini Cara Kerja dan Dampaknya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi pemerkosaan anak. Tempo/Inda Fauzi

    ilustrasi pemerkosaan anak. Tempo/Inda Fauzi

    TEMPO.COJakarta - Meningkatnya kekerasan seksual mendorong pemerintah menerbitkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perpu) yang, antara lain, mengatur soal hukuman kebiri kimia terhadap pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Perpu itu sudah ditandatangani Presiden Joko Widodo. Seperti apa cara kerja kebiri kimia tersebut?

    Dokter spesialis neurologi, Roslan Yusni Hasan, menjelaskan bahwa kebiri kimia bertujuan menurunkan libido atau gairah seksual seseorang. Caranya dengan menyuntikkan hormon. Ada banyak jenis bahan kimia yang bisa dipakai. Namun, kata dia, hormon yang banyak tersedia dan pada umumnya digunakan adalah Depo-Provera.

    Baca juga:
    Baju Minim dan Hot, Dena Rachman & Tyas Mirasih Bikin Heboh
    TERKUAK: Penyanyi KDI Pencuri 43 Mobil, Ternyata Playboy

    "Depo-Provera adalah obat KB (keluarga berencana) yang sudah biasa dipakai perempuan, tapi digunakan laki-laki untuk menurunkan libido," kata Roslan, yang biasa disapa Ryu Hasan, saat dihubungi Tempo, Jumat, 27 Mei 2016.

    Cara menyuntikkannya pun sama dengan suntik KB. Misalnya, di bagian lengan, paha, dan bokong. Dampaknya pun sama dengan KB, bergantung pada pemakaian. "Pengaruhnya ada yang enam bulan, dua bulan," ujar Ryu. Obatnya bekerja tak sampai seumur hidup.

    Efek pemberian suntikan kebiri, ia menuturkan, adalah membuat hormon seseorang tidak normal. "Hormonal tidak seimbang, kerja otak terganggu, kerja tubuh juga terganggu. Semua terganggu," tutur Ryu. 

    Baca juga:
    Heboh Kontribusi Reklamasi: Tiga Skenario Nasib Ahok
    Wah, Begini Pose Tyas Mirasih di Tempat Tidur & Gaya Mesra

    Sebenarnya, kata dia, hormonal terapi diberikan jika seseorang memang kekurangan hormon sesuai hasil pemeriksaan medis. Fungsinya untuk menormalkan hormon. Misalnya, orang yang merasa sakit karena estrogennya rendah diberi hormon estrogen. Sedangkan orang yang gelisah akibat hormon testosteronnya rendah ditambahkan testosteron. "Kalau itu pertimbangannya kesehatan. Kalau (hukuman kebiri) ini kan pertimbangannya bukan kesehatan, tapi hukuman."

    Menurut Ryu, kebiri kimia berbahaya bagi kesehatan karena menyakiti seseorang. Sebab, orang dalam keadaan hormon normal dibuat tidak seimbang. "Sekarang hormon kita semua dalam batas-batas normal, kemudian ditambah, ya jadi tidak normal," ucapnya.

    Ryu juga mengatakan suntikan kebiri kimia tak lantas membuat seseorang tak melakukan pemerkosaan lagi. Juga tidak membuat pria jadi kemayu.

    REZKI ALVIONITASARI

    Baca juga:
    Baju Minim dan Hot, Dena Rachman & Tyas Mirasih Bikin Heboh
    Ada 37 Bukti, Jessica Akan Diadili: Ini Penyebab Mirna Tewas


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.