Konflik Pecah di Tolikara Usai Pembagian Dana Prospek

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi menurunkan pasukannya untuk mengamankan kerusuhan di Tolikara, Papua, Minggu, 24 April 2016 (Reuters)

    Polisi menurunkan pasukannya untuk mengamankan kerusuhan di Tolikara, Papua, Minggu, 24 April 2016 (Reuters)

    TEMPO.CO, Jayapura- Konflik dikabarkan terjadi antara warga Distrik Gika dan Distrik Panaga di kabupaten Tolikara, Papua disebabkan oleh pembagian dana Program Rencana Strategis Pemberdayaan Ekonomi Kampung (Prospek) yang tidak adil.

    “Tercatat satu orang meninggal dunia atas nama David Manipo (24), 17 orang luka berat dan 15 orang luka ringan. Kerugian materi adalah 95 unit rumah terbakar. Kerusakan pertanian, penjarahan ternak dan kehilangan harta benda,” tulis Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam rilis yang diedarkan di grup diskusi Kekukunan Beragama dan Berkeyakinan, Minggu, 24 April 2016.

    Kerugian keseluruhan dari konflik warga dua distrik itu  masih dalam perhitungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tolikara.

    BPBD Tolikara, SKPD, TNI dan Polri telah berada di lokasi konflik dan berupaya melakukan perdamaian antara kedua belah pihak yang berkonflik. Namun konflik masih berlangsung karena ada dendam di kedua belah pihak yang bertikai. Konflik ini sudah berlangsung sejak tanggal 9 April lalu.

    Darwes Jikwa, Kepala Bagian Humas Kabupaten Tolikara membenarkan terjadinya konflik itu. Menurutnya, konflik terjadi setelah masing-masing distrik menerima dana Prospek dan kembali ke distrik masing-masing.

    “Penyerahan dana Prospek untuk 12 distrik termasuk dua distrik konflik itu dipusatkan di Distrik Kembu, di Mamit Tolikara. Jadi setelah terima tanggal 7 April itu, masing-masing distrik pulang ke distriknya. Pembagian dilakukan di sana (distrik masing-masing) setelah dua atau tiga hari,” kata Darwes, melalui sambungan telepon kepada Jubi, Minggu, 24 April 2016.

    Hingga saat ini, dilaporkan oleh BNPB, BPBD dan pemerintah daerah telah melakukan penangan darurat, namun APBD Tolikara yang terbatas membuat bantuan tersendat.

    “Masyarakat banyak yang mengungsi ke distrik lain. BPBD Tolikara berusaha memenuhi kebutuhan dasar bagi pengungsi. Kendala di lapangan adalah medan yang sangat berat. Kendaraan roda empat tidak dapat menjangkau daerah konflik karena medan sangat berat,” tulis Sutopo Purwo Nugroho.

    BPBD Tolikara telah meminta agar bantuan diberikan melalui udara dengan menggunakan pesawat terbang atau helikopter.

    TABLOIDJUBI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.